Halaman

Senin, 17 April 2017

MUHASABAH DIRI

Duduk melingkar saling mendengarkan, adalah sebuah pemandangan yang indah yang tertata karena keridhoan-Nya. Kembali menapaki jalan yang insyaAllah penuh bunga surgawi, dimana semuanya hadir karena haus akan ilmu ilahi. Bertemu kembali dengan mereka adalah kesyukuran yang tak terhingga, yang terselubung di dalam hati. Setelah sekian lama, entah beberapa bulan lamanya cuti tidak pernah mengikuti kajian yang islami ini. Rasa kangen inipun terobati, jiwapun kembali terisi, oleh bait-bait ilmu kecintaan pada sang Ilahi. 

Saling metaqarubkan diri, saling mengingatkan dan menasehati, tanpa emosi, tanpa sombong diri, dan juga tentunya tanpa merasa bahwa kita hebat dan pintar sendiri. Benar adanya dulu kata salah satu sang murrobi, kita ini kuat karena jamaah, bukan jamaah kuat karena kita. Karena di saat kita berdiri seorang diri, itu tidak ada apa-apanya sama sekali. Jika kita keluar dari jamaah, jamah tidak akan pernah kehilangan kekuatannya. Dan jamaah tidak akan pernah merasa merugi karena kepergian kita. Karena ketika kita keluar dari jamaah, pasti nanti akan hadir jamaah baru yang angka kapasitas dirinya melebihi diri kita. Ketika kita keluar dari jamaah, hanya dua yang kita dapatkan, keimanan kita bisa bertahan dengan pengendalian diri yang kuat, atau keimanan kita akan melemah karena pengendalian diri yang mulai berkarat. 

Kita hidup ini tidak bisa berjalan sendiri, kita butuh orang lain untuk saling mengingatkan, untuk saling berbagi nasehat, dan untuk saling memperkuat. Satu point utama yang harus bisa kita dapatkan, yaitu teman dan sahabat yang membawa kita pada kebaikan. Sahabat yang membawa kita pada cintanya Allah. Sahabat yang membawa kita pada jalan kebenaran. Sahabat yang membawa kita pada kedewasaan iman. Sehingga setiap kita berjalan, tidak akan pernah lalai. Ketika lupa ada yang mengingatkan. Ketika salah ada yang meluruskan. Karena tujuan pertemuannya adalah untuk saling bermuhasabah, bersama untuk terus memperbaiki diri menggapai mahabbah ilahi. Oleh karenanya wajib bagi kita untuk mencari teman yang baik hati, baik imannya, baik perkataannya, juga baik akhlaknya. Dan tak sungkan untuk saling menasehati. Bukan menggurui, apalagi mencaci maki, terlebih merasa hebat sendiri. Bukan itu yang wajib dicari. Intinya ada tawadhunya disini.

Mari kita terus bermuhasabah diri, memperbaiki setiap langkah yang kita jalani. Jangan bosan untuk mengkaji. Indahkan hari dengan terus menggali, menggali ilmu ilahi. Indahkan hari dengan terus mencari, karena hidayah tidak akan datang dengan sendiri. Indahkan hari dengan terus mewarnai, mewarnai dengan tinta kebaikan yang mempuni. Indahkan hari dengan terus berlari, berlari mendekati barokah dan ridhonya ilahi. Hidup di dunia ini hanya sekali, hidup di dunia ini hanya persinggahan diri. Jadi, hendaknya diri dijadikan berarti, hidup harus bisa dimaknai. Untuk bekal persiapan di akhir tujuan kita nanti. Agar diri kita tidak tergolong ke dalam golongan orang-orang yang merugi. Yuk, kita sama-sama berfastabiqul khoirot lagi. Semoga Allah melindungi, dan juga meridhoi 😇😇😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar