Halaman

Rabu, 31 Mei 2017

KEGAGALAN, SIAPA TAKUT!

Kegagalan, satu kata yang tidak banyak orang menyukainya. Satu kata yang terkadang bisa membuat seseorang putus asa. Itulah kegagalan, tidak ada satupun orang di dunia ini yang menginginkannya. Kegagalan bisa membuat orang menjadi lunglai karena rencana yang tercerai berai. Namun, kegagalan bisa juga membuat orang menjadi pribadi yang lebih sabar dalam berlayar. Mungkin tidak ada kata kegagalan di kamus orang yang beriman yang mau terus berjuang. Kegagalan hanya merupakan hal yang biasa yang pasti akan dialami oleh setiap orang. Sepandai-pandai tupai meloncat ia akan jatuh juga. Selincah apapun burung terbang, ia akan jatuh juga. Kegagalan merupakan sebuah peluang, agar kita senantiasa mencoba dan terus mencoba tanpa lelah, serta tidak mengenal kata putus asa. Seorang bayi saja yang baru berlatih berjalan, ia pasti akan gagal dan terjatuh pada awalnya. Jika ia takut untuk mencoba bangkit dan berjalan, mungkin ia selamanya akan lumpuh dan tidak bisa berjalan. 

Ada istilah yang mengatakan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kegagalah itu bukanlah musuh, yang harus kita caci maki, apalagi mengumpat diri karena jalan yang kita lalui ternyata berduri. Tapi kegagalan adalah guru bijak, yang mengajarkan banyak hal dari makna hidup dan kehidupan, karena ia senantiasa bercerita tentang nikmatnya perjuangan, dan indahnya pemandangan syurga, serta manisnya iman. Dengan demikian, bersabarlah dalam berguru pada “kegagalan”, kelak kesuksesan dan kebahagiaan menjadi gelar kelulusan bagi kita yang mampu bersabar, dan terus berjuang tanpa mengenal lelah di atas kegagalan yang kerap hadir di kehidupan. Kegagalan adalah bukti bahwa kita telah berbuat sesuatu, mungkin hasil yang kita harapkan saat ini belum tampak, atau hasil yang yang kita dapatkan saat ini tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Namun percayalah, besok atau lusa pasti hasil yang baik dan indah itu ada di genggaman. Bukankah bulan sabit akan berangsur-angsur tumbuh menjadi purnama? Dan itu semua adalah pasti, karena sunatullah akan senantiasa ada di muka bumi ini. Oleh karenanya, jangan pernah mengucapkan selamat tinggal pada jalan yang kita lalui, jangan pula pernah menyerah, selagi kita masih terus mencoba, dan terus mencoba, selagi nafas masih mengalir, di sana pasti ada harapan kemudahan, yakinlah inna ma’al usri yusra. 

Kegagalan itu hanyalah lubang kecil yang mencoba mengganggu langkah kita, bukankah kita masih bisa terus berjalan, dan masih banyak jalan yang lurus dan halus disana. Janganlah pernah berhenti pada satu jalan yang tertutup, sementara kita tahu bahwa masih ada seribu jalan yang terbuka. Hanya mereka yang berani gagal yang ada harapan untuk keluar menuju pintu kebahagiaan yang cemerlang di masa mendatang. Itulah ciri manusia berjiwa besar, yang pernah dikatakan oleh Al-Mutanabbi dalam slogan hidupnya yang paling terkenal, yang berbunyi “urusan yang ringan dimata orang yang kerdil akan tampak berat, sedangkan urusan yang berat dimata orang yang berjiwa besar akan tampak ringan”. Orang yang hebat bukan berarti orang yang tak pernah jatuh, tetapi orang yang hebat adalah orang yang sering jatuh, tapi ia berani bangun kembali untuk bangkit. Al-Mutanabi mengatakan: "Tidaklah semua yang diharapkan manusia itu bisa tercapai. Sesungguhnya angin bertiup, tidak selamanya sesuai dengan perahu layar". 

Kesulitan dan kegagalan dalam hidup, sekiranya dapat kita jadikan sebagai umpan balik koreksi diri. Semua itu dapat kita gunakan untuk membenahi kesalahan di masa lalu yang menjatuhkan kita dalam kegagalan. Disamping ia mampu meningkatkan kekebalan mental kita, ia juga mampu merangsang kembali semangat jiwa kita yang pupus, serta membangkitkan kembali potensi yang lemah, sehingga kita tidak stres lagi dan tidak kecewa lagi, serta hilang pulalah kecemasan dalam hidup. Kita bisa belajar dari semut yang tidak pernah mengenal kegagalan, ia terjatuh dari pohon, lalu bangun lagi, kemudian terjatuh lagi, begitulah seterusnya terjatuh seribu kali. Namun ia terus merangkak sampai tujuannya tercapai kembali. 

Bukankah nabi Muhammad pun pernah diusir dari Makkah? Dan apakah langsung kemudian Beliau merasa kalah dan lemah? Menyerah begitu saja tanpa tahu arah? Tidak, namun yang terjadi kemudian Beliau justru bangkit membangun kerajaan di Madinah. Bayangkan seandainya Beliau berhenti, mungkin Islam tidak lagi bersinar di muka bumi ini. Bukankah nabi Ibrahim dibakar dan dianiaya oleh raja Namrud yang kejam? Namun ia tidaklah pernah berhenti dari dakwah, sehingga panji tauhid tetap berkibar terus menerus sepanjang zaman. Dan masih banyak sosok-sosok teladan lainnya yang bangkit dari kegagalan, yang pada akhirnya mampu mencapai pada derajat kesuksesan tertinggi di sisi manusia dan Allah SWT. Oleh karenanya, Bersemangatlah! Jangan pernah menyerah jika Allah memberi kegagalan pada satu rencana. Karena rahmat Allah tidak akan tertutup untuk kita yang senantiasa setia di jalan-Nya. Kita pasti berhasil, Allah pasti akan mengabulkan segala doa dan ikhtiar kita jika sudah tepat waktunya. Karena sekeras-kerasnya batu ia akan berlubang dengan tetesan air kecil dalam proses yang terus-menerus. Dan hanya mereka yang berani berjalan dikegelapan malam yang akan menjumpai indahnya fajar. 

Ingatlah, seorang musafir tidak akan pernah sampai tempat tujuannya, sebelum ia berkeringat dan dahaga, serta merasakan panjangnya perjalanan. Lebah tidak akan pernah bisa menikmati manisnya madu sebelum ia berpindah dari satu bunga kebunga yang lain. Seekor burung, ia tidak akan pernah mendapatkan makanan sebelum ia berusaha keras, mengepakkan sayapnya dari pagi hingga sore hari, dan terbang kesana kemari. Ibnu Jauzi berkata : “Andaikata anak Adam bisa membayangkan, bahwa ia sanggup terbang kelangit, maka anda akan melihat diamnya ia di bumi adalah perkara yang dibenci”. Bergeraklah, dan berjuanglah untuk semuanya menjadi lebih baik lagi, karena pelangi kehidupan ini butuh proses yang panjang untuk mendirikan sebuah kerajaan. Ibarat kota Mekah tidak didirikan didalam satu hari, mungkin butuh bertahun-tahun bahkan puluhan tahun baru sempurna. Bersungguh-sungguhlah, karena Allah akan menunjukkan jalan kemudahan bagi mereka yang mau bersungguh-sungguh. "Man jadda wa jadda" dan teruslah berjalan di atas kebaikan, hingga Allah membuka tangan-Nya dan mempersembahkan hadiah terindah-Nya untuk umat-Nya yang setia, dan tak kenal kata menyerah karena sebuah ujian dari-Nya..

Kamis, 25 Mei 2017

SUBUH DI SUDUT IBUKOTA

Adzan subuh itupun menggema, berlomba saling bersahut-sahutan menunjukkan kegagahannya.  Masing-masing keindahan suaranya pun menyeruak seluruh alam raya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 waktu setempat. Tanda bahwa waktu sholat subuh akan segera tiba. Dengan lembutnya keharuman sang malampun perlahan mulai akan berganti dengan keharuman sang fajar. Ditandai dengan gema adzan yang begitu bergelora, memanggil-manggil seluruh umat manusia seantero jagad raya, untuk segera menunaikan kewajibannya. Sementara teman perjalanan yang duduk di sampingku, masih saja terlelap dalam buaian mimpi di kursi kemudinya. Malam ini hampir 10 jam ia mengemudikan mobilnya, sehingga membuat raut wajahnya terlihat tampak begitu lelahnya, sampai-sampai matanya pun tampak enggan terbuka untuk menatap kepergian sang malam.  
“Bangun mas, sudah dulu rehatnya. Kita cari masjid yuk karena bentar lagi sudah masuk waktu subuh nih” rajukku pada suami sambil mengguncang-guncangkan bahunya, berharap suamiku segera terjaga dari tidurnya.
"Memangnya sekarang jam berapa?" tanya suamiku.
"Jam 04.30 wib?" jawabku singkat
“Bentar lagi ya, matanya masih susah dibuka. Tunggu nyawa mas kumpul semua dulu” pinta suamiku dengan entengnya.
"Ya udah" jawabku sekenanya.

Aku pun terdiam dalam rasa kesel melihat reaksinya yang kembali merebahkan badan di singgasana kemudinya. Mungkin karena badannya yang terlalu lelah karena hampir semalaman mengemudi. Akan tetapi aku pun tak lantas pasrah, terus ku ingatkan suamiku yang masih terlena dalam lelapnya, sampai ia benar-benar terjaga dari tidurnya. Dan alhamdulillah tak butuh waktu lama, mungkin saja saat itu nyawanya sudah terkumpul semua.

"Kita cari masjid sekarang" timpal suamiku, yang kemudian dengan spontan bangkit dari tidurnya, menyadari bahwa adzan subuh telah memanggil-manggil raganya untuk segera menghadap Sang Pencipta dirinya. Langsung dibantingnya setir kemudi, meluncur untuk segera mencari rumah Sang Maha Pemilik jagad raya ini.

Masjid Al mukaromah (nama samaran), disinilah tempat pilihan kami untuk memanjatkan segala doa di kala panggilan-Nya menjelma. Setelah sebelumnya kami sempat menghentikan laju mobil ke salah satu masjid yang ada di pusat jantung kota, namun sayang gerbang masjid tersebut masih terkunci dengan  sangat rapatnya. Padahal waktu subuh telah berkelana, tetapi masjid tersebut masih tampak tak ada cahaya. Sehingga kamipun berlalu darinya. Tidak apa-apa, mungkin saja marbot di masjid itu masih terlelap dalam tidurnya, karena kelelahan sehingga lupa untuk membuka kunci pintu gerbang di kala waktu subuh tiba. Dan lupa mengumandangkan adzan disana. Sudahlah lupakan saja, masalah masjid yang masih terkunci rapat pintu gerbangnya. Yang terpenting kami sudah menemukan masjid yang lain untuk bisa segera menghadap kepada Allah swt. Namun lagi-lagi sayang seribu sayang, kami sedikit saja terlambat untuk bisa mengikuti sholat berjamaah di masjid ini. Setibanya kami di masjid tersebut, masjid sudah tampak sepi, tak ada satu orangpun terlihat di dalamnya, padahal waktu masih menunjukkan pukul 04.50 wib. Hanya 15 menit saja kami terlambat hadir dari panggilan adzan yang memanggema. Lagi-lagi suasana yang aneh menurut penglihatanku, satu jamaah pun sudah tak ada lagi di dalam masjid ini, entah mereka terpencar kemana perginya. Tanpa berpikir panjang kami pun segera turun dari mobil dan menuju tempat wudhu, membasuh wajah kami dengan kesejukan air yang ada, untuk segera melaksanakan panggilan-Nya. Kamipun pada akhirnya dengan penuh kekhusyu’an menyeru panggilan Sang Maha Rahiim, di sudut masjid ibukota dengan bertemankan sepi yang menyapa.

Alhamdulillah ya Robb, Engkau masih memberikan kami kesempatan untuk bisa sholat berjamaah, dan memberi kenikmatan khusyu’nya ibadah di tengah perjalanan kami. Inilah cinta yang Allah lukis dengan tangan lembutnya di atas cerita dunia yang fana. Indah dirasa, menenangkan jiwa. Itulah kesejukan yang menelusuri relung-relung hati kami. Di kala lantunan ayat-Nya menyeruak bumi, ketika jiwa seutuhnya berserah diri mengagungkan asma-asma Illahi. Sehingga sudah tak peduli lagi dimana posisi kami berdiri. Yang terpenting, diri ini bisa mendapatkan siraman yang menyejukkan jiwa dan raga dari Sang Maha Pencipta. Dan akupun hanyut pada pesona keindahan cinta-Nya, keelokan setiap bait-bait ayat suci-Nya. Rasanya tak ingin ku lepas dari-Nya. Hanya Dia Yang Maha Bijaksana, Maha Menenangkan Jiwa. Dan hanya kepada-Nya lah segalanya bermuara.

Inilah subuh di sudut ruang ibukota, bagiku sedikit miris melihat keberadaan sebagian masjid-masjidnya. Dimana pintu-pintu masjid itu masih terkunci dengan rapatnya. Begitupun dengan keadaan masjid yang kami singgahi saat ini,  tak jauh berbeda dari masjid sebelumnya. Hanya saja yang membedakan, kalau masjid sebelumnya pintu gerbang yang begitu gagahnya yang masih terkunci dengan rapatnya. Sementara disini hanya pintu-pintu masjidnya saja. Terpaksa kami pun saat itu memilih untuk sholat di beranda masjidnya saja, karena kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Ya, di beranda masjid yang menjadi lokasinya. Di situlah posisi kami berdiri untuk mengagungkan asma-Nya, menghadap Sang Maha Pencipta. Hmmm, jangan terheran-heran ya?  Mungkin ini sudah menjadi pemandangan biasa di jakarta. Dikunci semua pintu masjidnya. Padahal waktu subuh sudah memanggil segenap manusia untuk segera terjaga dari tidur lelapnya. Sedih rasanya, melihat masjid berdiri begitu megah dan kokohnya, namun keberadaannya sepi oleh manusia. Padahal adzan subuh baru saja bergema, lima belas menit yang lalu. Tapi masjid sudah menjadi tampak sunyi sepi begini tanpa ada penghuni di dalamnya. Keadaan ini terlihat aneh, tetapi nyata. Sholat di beranda masjid?? itu rasanya sangat luar biasa, pengalaman pertama yang amat berkesan di mata, karena baru kali inilah aku merasakannya. Bukan karena ruangan masjid yang sudah penuh sesak oleh jamaahnya, bukan pula karena banyaknya orang yang berdatangan mengunjunginya, tapi hanya karena semua pintu masjid ini sudah terkunci dengan rapatnya. Yah, itulah sekelumit cerita di atas dilematisnya raga di tengah perjalanan menuju ibukota, sampai-sampai masjid pun ikut terkunci oleh suasana.

Selesai kewajiban kami menghadap Sang Maha Pencipta, kami  pun merehatkan badan sejenak guna merefresh pikiran. Duduk berdua sambil meluruskan kaki, kami bersantai di beranda masjid nan megah ini.
“Mas kalau seperti ini kita seperti orang yang terlantar ya? Dengan suasana masih agak gelap, duduk diberanda masjid sambil selonjoran tanpa ada orang yang peduli sama kita” celetukku spontan dengan asalnya.
“Hush, apaan sih kamu ini ngomongnya, ya enggaklah. Enak aja” seru suamiku tak menerima.
“Oya, terus kenapa kok semua pintu masjid ini di kunci ya mas, padahalkan sudah subuh” sela ku penasaran.
“Mungkin disini banyak malingnya, makanya semua pintu masjidnya disini dikunci begitu selesai sholat” jawab suamiku menjelaskan.
“Maling?? Memangnya apa yang mau di maling di masjid, anehhh...” timpalku sekenanya.
“Ya ada aja, maling kotak amal, maling mic, maling sandal, dan mungkin juga maling karpet masjid” ujar suamiku sambil tertawa ringan.
“Oh...” timpalku singkat sambil tertawa.

Tak terasa hampir setengah jam sudah kami merehatkan badan di beranda masjid ini. Sang fajar pun mulai menampakkan kegagahannya kepada kami. Tanda bahwa cahaya pagi akan segera tiba menyapa alam dunia. Sedikit obrolan sederhana melengkapi perjalanan waktu subuh kami, dalam rehat seusai sholat subuh di beranda masjid yang megah di sudut ibukota. Cahaya pagi pun dengan malu-malu mulai menyapa wajah kami berdua, menyadarkan kami untuk segera beranjak dari kesejukan beranda masjid ini. Kaki pun bergegas pergi menuju mobil yang terparkir di halaman masjid sejak tadi. Dan kami siap melanjutkan perjalanan, perjalanan menuju istana kecil yang penuh dengan cinta-Nya.

Terima kasih ya Robbi, telah Kau buat sedikit tenang hati ini oleh kesejukan fajar dan cahaya pagi, walau sampai hari ini belum bisa kami mengerti, bagaimana kelanjutan skenario yang akan Kau buat hingga kehidupan esok hari. Sungguh rahmat-Mu ada di seluruh negeri, Cinta-Mu tak pernah putus hanya karena keangkuhan penduduk negeri, dan Engkau lah pemilik arrasyi. Begitu indah Kau buat pergantian siang dan malam, Engkau mengaturnya tanpa cela dan penuh kehati-hatian. Kesejukan anginnya membawa insan terbang kepada kesyukuran, seraya tunduk memohon ampunan. “Ya Allah kini pagi-Mu telah tiba, dan malam-Mu telah berlalu, maka berkahilah kami dan ampunilah segala dosa-dosa kami.”

On Memories, 25 Februari 2015