Halaman

Sabtu, 28 Oktober 2017

REL-REL KATA

Hitam di atas putih, putih di atas hitam. Setiap hari selalu saja ada cerita tentangnya. Rasanya warna hitam dan putih sudah sangat mendominan dijadikan icon pembeda di ranah publik kita. Selalu ada saja yang berkomentar untuk kedua warna tersebut. Kubu hitamlah, kubu putihlah, aliran hitamlah, aliran putihlah dan sebagainya. Begitu terkenalnya kedua warna itu di dalam wacana sehari-hari kita. Entahlah seperti apa sesungguhnya kebenaran keduanya, hal apa yang mendasari sehingga kedua warna itu menjadi begitu populernya di kalangan masyarakat kita. Di sudut beranda, selalu saja terdengar perbincangan yang menyeringai telinga. Apa mungkin pengaruh karena saat ini lagi heboh-hebohnya pilpres kali ya? Ah, mungkin tidak juga. Jauh sebelumnya, kehebohan itu sering terdengar di telinga. Seringai senyum sampai gelak tawa terkadang menepi jika mendengar debat kusir mereka. Haduhhh, ini bukan ajang merangkai rel-rel kata dengan panjangnya, apalagi untuk menjelek-jelekkan antara warna yang satu dengan yang lainnya. Antara hitam dan putih, atau warna apalah itu namanya. Karena itu hanya akan membawa diri kita kepada lumbung dosa saja. Tanpa terasa akan tercetus sarana ghibah di dalamnya.

Bukankah di dalam agama kita di larang untuk mengghibah? Sebaiknya kita lebih bisa bijaksana dalam menelaah segala wacana. Memang enak yang namanya bicara, apalagi merangkai rel-rel kata yang begitu luas cakupannya. Sejurus arah tanpa adanya rem saja, rel kata itu bisa dengan cepat pecah begitu saja. Tanpa kendali, dan tanpa arahan yang membawa pencerahan. Tersadar atau tidaknya, begitu banyak balutan kata yang sering menyeringai dari mulut kita, begitu banyak rangkaian rel kata yang kita catat di dalam buku note kita. Terkadang kita asyik dengan segala wacana dan kehebohannya. Dari kata yang menjurus kepada kebaikan sampai menyeringai kejelekan, semua tersusun rapi di dalamnya. Terkadang ada kerancuan rasanya, melihat semua olahan kata yang terpapar di hadapan mata. Bermacam-macam permainan kata terolah dengan sempurnanya. Inikah sebuah realita? Seperti perang kata-kata. Mengapa harus ada pembeda yang sangat menjatuhkan diantara keduanya? Boleh saja kita mengeluarkan rangkaian rel kata militan yang kita punya untuk melawan musuh di dalamnya, tetapi hakikatnya harus tetap mengikuti kaidah kebaikan di dalamnya. Namun pada kenyataannya, terkadang kita lebih senang menyerang dengan rel kata tanpa ada strategi kebaikan di dalamnya. Justru kita lebih senang memilih rel kata yang mematikan daripada menyadarkan. Mungkin, inilah dunia…tajamnya rel kata terkadang mampu meluluh lantakkan apa saja yang ada di dalamnya. Sudah ahhh.. apalagi yang harus dikatakan, diri ini sendiri terkadang tak pernah memahaminya. Antara hitam dan putih, yang aku tahu keduanya merupakan warna netral yang aku suka bila melihatnya.

Kini pertumbuhan pemikiran modern yang berkembang luasnya telah cukup berhasil membuat kedua warna ini menjadi begitu fenomenal di mata dunia. Kedua warna itu sering kali dijadikan tolak ukur bahkan symbol sebuah kehidupan di alam raya. Bahkan warna hitam dan putih pun tak luput dijadikan sebagai tolak ukur sarana penilaian. Dalam ranah politik, organisasi, keilmuan, atau bahkan sampai sebuah perkumpulan. Semua saling mengindentikkan dengan kedua warna tersebut sebagai slogan. Bahkan dengan miliyaran kata mampu  terangkai kalimat untuk saling menjatuhkan diantara keduanya. Ironisnya rel-rel kata itu terkadang mampu menyeret kita ikut tercebur di dalam arus derasnya tanpa penelehaahan adanya. Lantas selama ini bagaimana dengan rangkaian rel-rel kata yang kita punya? Yang terkadang dengan mudahnya kita masih senang merangkai rel-rel kata dengan rangkaian yang menjatuhkan atau bahkan menyudutkan apa saja yang tidak kita suka. Sudah yakinkah kita, jika semua rel-rel kata yang kita rangkai menjadi jutaan kalimat itu mengandung manfaat untuk sejuta umat? Entahlah, bagaimana sebenarnya aturan mengaturnya? Tetapi seyogyanya sebagai muslim kita mesti tahu, bagaimana seharusnya mengolah kata dan merangkai rel-rel kata tersebut agar menjadi bermanfaat. Bukan untuk berghibah, atau menjatuhkan satu sama lainnya, atau bahkan untuk menjelek-jelekkan di dalamnya. Ingatlah, jika Allah menghendaki kemenangan itu murni milik kita, sesungguhnya kita tidak perlu bersusah payah mengerahkan segala pemikiran untuk merangkai jutaan rel kata yang menjatuhkan lawan kita. Satu kata saja yang kita catat, itu di lihat oleh Yang Maha Melihat. Satu kata saja yang kita sampaikan, itu di dengar oleh Yang Maha Mendengar.

Lantas bagaimana dengan diri kita? Bagaimana dengan rangkaian rel-rel kata yang kita punya selama hidup kita di dunia? Hakikatnya rel-rel kata yang melekat pada warna hitam dan putih, itu semua ada resikonya. Keduanya sama-sama ada pertanggungjawaban di dalamnya. Berhati-hatilah dalam melintasi setiap rel kata yang ada, rangkailah rel-rel kata tentang warna yang tidak menyudutkan satu diantaranya. Kita tidak perlu menggunakan rel kata sebagai sarana dalam menjatuhkan lawan atau kawan yang tidak kita suka. Bermainlah dengan warna yang cantik dan kata yang indah di dalamnya, yang membawa damai bagi setiap pihak yang membacanya. Jika rangkaian rel kata itu indah terlihat mata, kita akan mendapatkan manfaat darinya. Ketika tubuh ini tak lagi ada di alam dunia, maka rangkaian rel kata itu pun akan turut menentukan pula bagaimana nasib kita. Marilah kita gunakan tarian pena ini untuk sebuah kata yang menyeringai kebaikan di dunia, kita rangkai rel-rel kata itu hingga terangkai sebuah keindahan bahasa yang membawa ketenangan jiwa bagi yang membacanya. Sebarlah manfaat dengan jutaan rel-rel kata yang kita punya. Tanpa mendomainkan warna hitam dan putih sebagai kambing hitam penyusunan kata-kata di dalamnya.  

Dan inilah rel-rel kata yang saya punya, semoga bermanfaat. And happy writing😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar