Halaman

Senin, 22 Januari 2018

MENJAGA HATI

"Jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini”. Begitulah sepenggal lantunan nasyid tentang hati yang mengingatkan kita agar selalu untuk bisa menjaga hati di dalam segala suasana. Karena hati merupakan lentera bagi kehidupan kita. Jika hati kita baik, maka baiklah hidup kita. Sebaliknya jika hati kita jelek, maka jelek pula lah hidup kita. Hati sangat berpengaruh di dalam kehidupan kita. Maka sudah semetinya kita mampu menjaga hati kita, sebagaimana pesan yang disampaikan oleh lantunan syair jagalah hati tersebut. Karena jika hati kita sampai ternodai, maka bisa membuat diri kita menjadi hilang kendali. Hati  yang ternodai, akan sulit untuk bersikap arif, apalagi teliti. Semua tak bisa lagi tersusun rapi dengan keindahannya. Ketika hati hilang kendali karena sejenak diri kita lupa kepada-Nya, maka kelembutan hatipun dapat luntur seketika. Apalagi tatkala emosi yang bicara, maka ego mampu meluap dengan luasnya. Itulah sebabnya, mengapa hati perlu kita jaga. Menjaga hati dengan segala kemurnian amalan ruhiyah dengan sebaik-baiknya. Tanpa mengenal waktu, hari, bulan, bahkan tahun sekalipun. Ruhiyah wajib selalu kita isi, bahkan kita update agar selalu terjaga dan tidak ada virus yang bisa mengotori. Karena hati sangat besar pengaruhnya, hatilah yang mampu menunjukkan  siapa dan bagaimana diri kita sebenarnya. Seorang yang lembah lembutkah kita, atau seorang yang arogankah kita. Hendaknya kita mampu menjaga hati dari arogansi diri, agar ia tidak keras lalu mati. Menjaga hati dari segala kobaran emosi, agar ia mampu terkendali dan tidak menyakiti. Memang ada kalanya kita sebagai manusia melakukan khilaf karena segala ulah bumi, sehingga tak jarang membuat diri hilang kendali. Sehingga emosipun meluap kian menjadi-jadi. Akan tetapi, apakah lantas yang demikian itu mampu mengarahkan kita pada ketenangan hati? Tak sepatutnya jika kita langsung menghujani bumi dengan bara emosi, dan kemarahan yang menjadi-jadi. Hanya karena segala peristiwa bumi yang tidak mengenakkan hati. Sebab hal tersebut tidak akan membawa kita menepi, apalagi membawa pada ketenangan hati yang mampu menentramkan hidup kita nanti.

Kita memang bukan Rasulullah SAW yang mampu menjaga kelembutan hati dengan eloknya diri, yang mudah memaafkan segala kesalahan dengan segala ketulusan hati, yang memiliki ruang keikhlasan sangat luas bagi seluruh penduduk bumi. Akan tetapi, apa salahnya jika kita berusaha untuk belajar mengikuti, kita berusaha untuk bisa meneladani. Tidak harus dengan sifat yang sepenuhnya sama dengan Beliau, atau 90% menyamai.  Tetapi setidaknya kita mampu mengambil sebagian dari apa yang Beliau contohkan, untuk kita pelajari. Yang kemudian kita implementasikan di kehidupan sehari-hari, walau tidak sepenuhnya menyerupai. Memang terasa sakitnya hati, ketika sebuah kepercayaan dikhianati. Ketika sebongkah kemarahan menghujami tanpa permisi, karena fitnah dunia yang mendzolimi. Sudah pasti kesemuanya itu mampu membuat luka diri. Kita mungkin tidak akan bisa menerima keadaan ini, dan akan bilang “sakitnya tuh disini, di dalam hati”. Sehingga mengakibatkan banyak luapan emosi yang mungkin tidak mampu lagi kita jaga dalam diri, bahkan tak sering membawa dendam dalam hati. Sungguh ironis dan merugi jika kita menemui  kenyataan diri yang seperti ini.

Sekarang begini mari kita sama-sama coba pikirkan, apakah iya kita tega membiarkan hati menjadi mati hanya karena ulah cerita bumi? Atau membiarkan hati yang sedang sakit itu kian menjadi-jadi dan menjadi tanpa arti? Silahkan pikirkan sendiri, tanpa sembunyi. Ingatlah, bahwa kita tidak akan menemukan kedamaian di dalam hidup, ketika kita tidak mampu mengendalikan segala luapan emosi, yang kerap membanjiri ruang lingkup diri. Karena kita hidup di persimpangan bumi, yang kapan saja luapan peistiwanya itu pasti ada yang bisa membuat kita menjadi sakit hati, marah, dan emosi diri. Akan tetapi tetaplah berusaha menjaga hati, jadilah diri yang pandai menyikapi segala ocehan bumi.

Itulah sebabnya mengapa kita harus mampu mengantipasi diri, dan terlebih lagi menjaga hati agar bersih diri. Lantas bagaimana jika hati sudah terlanjur tersulut dengan amarah dan emosi bumi? Bagaimana agar semua itu tidak menjadi masalah hati lagi? Kemana kita harus mengobati? Ibarat tubuh, jika kita sudah mulai merasakan tubuh ini kurang fit atau tidak sehat, pastinya yang kita lakukan adalah mencari dokter atau pengobatan untuk tubuh tersebut, agar tubuh tidak menjadi lunglai seketika dan sakitnya semakin menjadi. Begitupun dengan hati, jika kita merasa sudah mulai tak bersahabat lagi karena ulah bumi yang menghampiri, maka segeralah mencari cara untuk segera memperbaiki, agar sakitnya hati tak semakin menjadi parah dan semakin menjadi. Segeralah ingat sang Illahi, beristighfar dan memintalah kelembutan tangan-Nya agar mengusap dada kita, sehingga diri terjaga dari luapan emosi. Karena jika emosi telah menguasai diri, maka logika tak mampu lagi berpikir dengan jernihnya. Hati tak mampu lagi memberi kelembutannya pada diri.

Hati-hatilah dengan hati, pandai-pandailah diri kita mengelolanya dengan pupuk made in Illahi. Jangan sampai arogansi diri membawa kita pada kerasnya hati. Jangan sampai sulutan emosi yang ada membawa kita kepada sakitnya hati. Jangan sampai kerasnya hati, sakitnya hati, kemudian membuat hati kita menjadi mati. Memang gampang-gampang sulit menata hati, memang tak seringan berkata-kata menjaga hati. Dan tidak juga semudah seperti membalikkan kedua tangan menstabilkan hati. Apalagi jika yang punya hati telah tersulut oleh peristiwa arogansinya bumi, dan jauh dari sang Illahi. Tetapi, apakah lantas sikap kita harus tiba-tiba menjadi dingin oleh bumi? Sesungguhnya tidak harus demikan. Tidak pantas kita marah pada bumi karena ceritanya telah tak mengenakkan hati, apalagi sampai menyombongkan diri karena ceritanya yang menyanjung hati. Tidak pantas untuk kita bangga diri, jika kita belum bisa mengelola hati, jika sampai hari ini, detik ini diri kita  masih dengan mudahnya tersulut oleh lautan emosi karena aneka cerita bumi.

Ketahuilah bahwa kita adalah pengemudi sang hati, diri kita sendirilah yang mampu mengatur hati di atas lembar hitam putihnya kehidupan ini. Labuhkanlah diri pada istana Illahi, agar  kita mampu menjaga dan mengelola hati, sehingga terjauh dari segala ego diri yang bisa membakar emosi. Damaikanlah hati pada cahaya Illahi, agar menjadi tentram setiap langkah kaki. Ajaklah hati menuju muara cinta Illahi, agar tenang jiwa dan pikiran diri. Indahkanlah hati pada kerendahan diri, agar kita mampu melihat setiap sisi. Tidak akan merugi kita melunakkan hati, pada semua ulah bumi yang kerap menghampiri. Memaafkan segala yang menyakitkan hati, itu lebih arif diri, dan akan menghindarkan kita dari bengkaknya hati. Sebesar apapun itu, sesakit apapun itu, tempatkanlah hati pada kelembutan yang memperindah diri. Jangan sampai salah menempatkan hati, karena itu bisa membawa kita pada jurang yang menistakan diri. Apapun prilaku bumi, apapun cerita yang mewarnai, mencobalah berdamai dengan segala kelembutan hati yang kita miliki. Karena tidak akan mati harga diri, ketika kita memilih untuk lebih melembutkan hati di dalam menghadapi segala ulah bumi, yang mungkin kedatangannya terkadang menyakitkan diri. Sebagai seorang muslim yang sejati, sudah sepatutnya kita pandai menjaga hati agar tak tergelincir kaki oleh arogansi bumi. Dan yang lebih penting adalah bersyukur selalu kepada Sang Illahi. Mengingatnya setiap hari, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, adalah cara yang paling relevan untuk menjaga hati. Semoga hati-hati kita selalu terpaut kepada cinta-Nya, sehingga keelokan hati tidak hilang dan mudah ternodai oleh aneka cerita bumi yang merajai diri. 

Rabu, 03 Januari 2018

PESONA DUNIA

Kembali tangan ini menuliskan tinta hitam disini, berbagi cerita, berbagi ilmu, dan berbagi inspirasi yang ada. Di pelataran dunia, mencoba untuk selalu belajar merangkai kata, mengisi diri untuk terus belajar atas ilmu yang belum seberaba. Terlebih ilmu agama, tak akan pernah bosan untuk menikmti pertualangannya.  Karena dunia, semua terlihat begitu eloknya. Hamparan pasir di lautan yang begitu mempesona, sampai hijaunya pegunungan yang menakjubkan mata. Semua menyuguhkan keindahan cerita dengan sendirinya. Seolah-olah semua hidup, dan mampu diajak bicara. Berbagai macam kisah dengan dialognya yang membahana, menghiasi dengan nyata. 

Itulah dunia, dimana kehidupannya penuh sandiwara, kadang ada tawa, kadang ada tangis, kadang ada bermuram durja, dan kadang ada ceria. Itulah dunia dengan segala lukisannya. Indah dipandang mata memang, namun terkadang penuh lika-liku di dalamnya. Sebagai manusia kita hanya mampu menatapnya, dan bermain peran di dalamnya. Dengan keimanan dan juga keilmuan yang kita punya.  Indah nuansa warnanya,  kadang membuat hati kita menjadi merah muda, namun tak jarang nuansa warnanya pun membuat hati kita menjadi abu-abu tua, ataupun jingga.  Pekatnya dunia selalu mewarnai hari-hari kita, ceritanya selalu saja lengkap dan ada untuk kita nikmati nuansanya. Beraneka cerita beserta alurnya, Allah telah siapkan untuk manusia sebagai kebutuhan hidupnya di alam raya. Ada yang terlena oleh pesonanya, ada yang terbuai oleh alunan syairnya, ada pula yang terlelap oleh gemerlapnya. Itulah dunia dengan segala keelokan dan daya pikatnya. Dunia telah meiupkan angin sepoi-sepoinya di kelopak mata manusia, sang maestro dunia. Sehingga membuat manusia tertidur dengan pulasnya, oleh karena keindahan dan kuasa dunia yang terlihat serba indah dalam pandang mata. Semerbak wanginya, telah membawa sebagian manusia lebih mencintai dunia. Tak lagi menghiraukan aturan Tuhannya, yang menciptakan segala keindahan alam raya. Terabaikan segala yang diperintahkan-Nya, karena semata-mata nafsu dunia telah mengusai dirinya. Itulah manusia yang tidak pandai bersyukur kepada Robb-nya. Yang jauh dari Sang Maha Peciptanya. Tanpa tersadar, mereka telah dijadikannya sebagai budak oleh dunia. Na’udzubillah ya...semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

Berhati-hatilah ketika memijakkan kaki di dunia, agar tubuh tidak terlena oleh pesonanya yang indah namun hanya sementara. Bagi manusia yang pandai bersyukur kepada Robb-nya, dunia hanyalah tempat persimpangan untuk menuju jalan-Nya. Bukan segala-galanya. Semerbak keharuman dunia tidak lantas menjadikannya cinta dunia. Justru segala pesonanya, membawanya semakin dekat kepada yang menciptakannya. Tidak lantas membuatnya terbuai, dan tertidur pulas di dalamnya. Apalagi sampai mengabaikan perintah Rabb-nya di atas segala kesibukan dunianya. Sungguh tidak pantas baginya untuk berleha-leha, apalagi sampai mengabaikan segala perintah Tuhannya di atas kesibukan dunia yang dia punya. Karena dirinya menyadari bahwa Allah lah yang telah menciptakan semuanya, dunia dengan segala peristiwa dan keindahan pesonanya. Baginya hidup ini laksana seperti matematika, yang banyak perhitungannya, yang penuh dengan rumus aritmatika dan logaritma. Yang butuh kehati-hatian dan ketelitian di dalam memasukkan rumus didalam perhitungannya. Adapun semua rumus yang ada, mampu membuat otak manusia dipenuhi oleh ketamakannya jika sampai salah menempatkannya. Karena jika kita sampai salah meletakkan rumus di dalamnya, maka hasil akhirnya akan menjadi kurang atau kelebihan jawabannya, atau bahkan sama sekali tidak menemukan hasilnya. Sehingga yang tampak indah sebelumnya, sebuah rumus yang telah tersusun dengan rapinya, lama-kelamaan mampu memberikan hasil akhir yang tidak mengindahkan pandangan mata. Ini bukan hanya cerita, tapi adalah nyata. Kita tidak bisa memungkirinya, jika sedikit saja kita terbuai dan terlena didalamnya, maka bersiaplah perlahan-lahan dunia akan mengancam kita dengan segala keburukannya.

Begitulah dunia, hingar bingarnya telah banyak membuat mata manusia terlelap di atas keindahannya. Terlebih dengan meluasnya kebebasan yang mampir di tengah-tengahnya. Dari yang katanya modernisasi, emansipasi, bordeless word, sampai ghazul fikri telah ikut semarak mewarnainya. Kesemuanya mampu membuat sebagian penghuninya tertawa dengan renyahnya, karena menganggapnya suatu perubahan yang mengantarkan mereka pada kesempurnaan jalan dunia. Dan sebagai simbol kebebasan atas dirinya. Lihat saja sekeliling kita, kita mulai temui ada anak muda yang sudah mulai sedikit berkurang rasa sopannya kepada orang yang lebih tua. Tawuran antara anak sekolah terjadi dimana-mana. Tontonan televisi yang kurang mendidik acaranya. Seragamnya saja SD, SMP, dan SMA, namun isi di dalamnya 90% kebanyakan drama percintaan saja. Yang terlihat cerita lebay dan mengada-ada. Sehingga pergaulan bebaspun kini tak luput dari sorotan mata dunia. Zina sudah dianggap biasa, akibatnya married by accident jadi hal lumrah di mata. 

Mirisnya lagi, banyak diantara kaum wnita di dunia ini yang tak lagi menghiraukan bagaimana cara menjaga aurat tubuhnya. Hanya karena supaya terlihat modern katanya. Sebagian dari keelokan tubuhnya tanpa rasa sayang sengaja dipertontonkan dengan bebasnya, agar bisa di pandang oleh mata siapa saja yang menginginkannya. Auratnya yang terlihat oleh mata yang bukan saudaranya dianggapnya lumrah dan sesuatu yang biasa-biasa saja. Anehnya hal itu dijadikan suatu kebanggaan bagi mereka, karena menganggap diri yang telah modern menurut hatinya. Andaikan saja seluruh wanita tahu, jika dunia ini tidak akan pernah membawa kita pada kebahagiaan di penghujung akhirnya, mungkin kita tidak akan terlena di dalam kebebasannya. Andaikan saja seluruh penghuni dunia tahu, jika satu hari di dunia ini sesungguhnya seribu hari di alam akhirat sana, mungkin mereka tidak akan berlama-lama terlelap dalam tidur panjangnya. Andaikan saja seluruh wanita tahu, bahwa seorang wanita jika keluar rumah dengan pakaian yang memperlihatkan setiap keindahan bentuk lekuk tubuhnya, maka sesungguhnya wanita itu dengan sendirinya telah menyediakan satu tempat di neraka untuk orang tuanya. Dan andaikan saja seluruh wanita tahu, jika ada satu kaum lelaki asing saja yang bukan muhrimnya sampai melihat keindahan rambutnya, apalagi sampai lekuk tubuhnya, maka sesungguhnya mereka telah ikut  menabur dosa di atasnya. Jika saja seluruh wanita tahu akan hal tersebut, mungkin mereka akan segera memperbaiki segalanya. Dan bersegera memenuhi sanubari dengan segala keimanan dan ilmu akan agamanya. 

Itulah dunia, tak jarang ulahnya telah memalingkan muka penghuninya. Budaya barat sampai eropa, menjadi asupan bagi manusia yang terbuai oleh nyanyian dunia yang fana. Berlimpah ruah segala gejala yang dibawa, dengan keindahan yang penuh tipu daya, sampai-sampai mampu melenakan hati pengemudinya. Iman tak lagi dijaga di dalamnya, bahkan moral terkadang menjadi ancaman manusia. Mereka palingkan muka terhadap perintah agama, sampai dosa kecil hingga besar dianggapnya biasa. Entahlah, ini berita atau suatu bencana kelihatannya. Hanya satu hal yang mampu membawa keselamatan di dalamnya, manusia yang mampu berjalan di pelataran dunia dengan kemantapan iman di hatinya. Manusia yang mampu melawan segala hingar bingar dunia dengan agama yang terpatri kuat di dalam qolbunya. Manusia yang mampu mengokohkan pondasi keislaman di dalam tubuhnya. Dan manusia yang takut akan azab Tuhannya. Para penghuni mewangi dunia, sahabat-sahabatku seantero jagad raya, mari kita sama-sama belajar memperbaiki diri, sebelum dunia menenggelamkan kita ke dalam keganasan gelombangnya. Agar diri kita tidak terjerumus oleh keelokan dunia yang tak bertepi. Karena terkadang dunia bercerita dengan kegarangannya,  terkadang dunia bercerita dengan  kesenangan dan kenikmatannya. Semua itu hanyalah lukisan belaka, agar penghuni dunis bisa terlenap. Hanya dengan membangun kedekatan diri kepada Sang Maha Pencipta, kita mampu mengendalikan dunia dan segala gejolaknya. Dan diri inipun mengakui bahwa semua yang ada tak seindah pandangan mata, di kala dunia berkata bahwa sang penulis pun tak luput dari dosa. 

Kepada Allah sajalah semua bermuara, karena pengampunannya yang selalu ada.