Halaman

Minggu, 30 April 2017

CINTA SEJATI

Lagi-lagi aku dan almira tak terpisahkan. Di puncak ini, aku kembali satu kamar dengan almira. Begitulah almira, akan selalu saja ada kata protes darinya jika kang Raihan menyuruhnya mencari teman sekamar yang lainnya selain diriku. Dia tahan memilih adu argumen kepada kang Raihan, yang penting asalkan dia bisa satu kamar denganku. Sampai-sampai kang Raihan menjuluki kami berdua, “si kembar siam dibelah kampak, yang tak bisa dipisahkan oleh operasi sekalipun”. Terkadang kang Raihan seringkali meledek kami berdua dengan kata-kata, “Dimana ada evi disitu pasti ada almira, gak percaya?? Buktikan saja” hahahaha.. Begitulah gaya kang Raihan selalu meledek kami. Menurut kang Raihan kami adalah kembar siam yang selalu saling mengisi, hanya saja bedanya yang satu full religi, dan yang satu lagi seperempat religi. Entah dari kacamata mana dia menilainya. Tapi menurutnya, kami berdua sama-sama memiliki potensi dan kecerdasan tersendiri. Dan menurutnya lagi, kami adalah orang-orang yang suka paling nekad seantero kaum hawa di backpacker community hehehe… Itulah pendapat kang Raihan si pak ketua kami di backpaker community, yang dianggap super galak oleh Almira. Entah kenapa? Mungkin karena Almira seringkali beda pendapat olehnya setiap kali ada jejak pendapat disini, yang menurut kacamata Almira bahwa kang Raihan adalah orang yang dirinya mau menang sendiri terhadap segala pendapat-pendapatnya.

Malam ini cuaca puncak dan sekitarnya terasa cukup dingin menggigit tubuh kami. Sehingga malam ini  membuat diriku dan Almira lebih memilih untuk mengurung diri saja di dalam kamar hotel, dibandingkan pergi keluar berkumpul bersama teman-teman anggota yang lainnya. Seusai sholat isya, di kamar aku dan Almira disibukkan dengan hobi kami masing-masing. Almira sibuk berkutat dengan rumusan-rumusan puisi roman picisannya, sementara diriku sibuk berkutik dengan novel religi yang baru saja ku beli siang tadi. Tidak ada satupun kata-kata yang terucapkan dari mulut kami, kami asik terbawa oleh hobi yang sedang kami geluti saat ini. Hampir satu jam lebih kami bergelut pada hobi kami masing-masing. Sehingga kamar menjadi sedikit terasa sunyi malam ini. Namun, tak lama kemudian tiba-tiba Almira beranjak menghampiriku yang sejak tadi duduk tenang di sofa depan TV. Almira pun dengan gaya khas jahilnya mampu memecahkan kesunyian di dalam kamar ini. Sunyipun terpecahkan diantara kami.

“Hay non, coba lihat novelnya…serius banget ya baca novelnya” sapa Almira sampil iseng mengambil novel dari kedua tanganku secara tiba-tiba.
“Ih Almira nih ganggu aja, gak bisa lihat temannya senang. Gak tahu apa kalau lagi pw alias posisi wenak” timpalku sekenanya.
“Hmmm, kalau sudah menghadapi novel religi kayak begini nih, sudah gak lihat kanan kiri lagi. Awas loh non hati-hati, di penginapan ini banyak makhluk gaibnya, bisa-bisa kalau terlalu serius bacanya nanti kemasukan jin. Terus pingsan lagi seperti kemarin pagi, hahaha….” ledek almira kepadaku.
“Weee, biarin saja…bilang saja Almira iri, paling-paling juga jinnya yang ganggu bernama Almira” candaku kepada almira.
“Yeee, siapa yang iri. Lagian coba lihat, mana ada jin secantik diriku” tangkas Almira sekenanya. “Klo diriku sih vi mending disuruh lari putar lapangan daripada di suruh baca buku setebal ini” sela Almira.
Akupun tertawa mendengar jawaban Almira, sambil berkata “yang ada bukunya bisa-bisa dijadiin bantal sama dirimu ra”
“Eh, vi…aku mau tanya dong” sela Almira dalam candanya.
“Nanya tentang apa?” jawabku sambil merebut novel dari tangan Almira.
“Menurut kamu cinta sejati itu yang bagaimana sih vi?” tanya Almira kembali.
“Hadehhhh, nona Almira yang terhormat…ada gak sih kira-kira pertanyaan yang lain selain tema ini. Gak usah bahas masalah cinta deh, yang lain saja kenapa. Cari pertanyaan yang lebih gregetan gitu temanya, tentang palestina, mesir, korupsi, politik, atau apalah, asal jangan yang bertemakan tentang cinta diskusinya…malas ah bahasnya” selaku pada Almira sambil kembali menekuni bacaanku.
“Yeee…kamu ini kenapa sih vi, setiap kali diajak ngobrol masalah cinta selalu saja menghindarinya, menolaknya. Perasaan orangnya sensitif benar dengar kata yang bertema cinta. Memang salah ya pertanyaanku tadi, tema ini juga greget kali vi” jawab Almira agak sedikit sewot. “Hahaha…atau jangan-jangan…agak curiga nih” celetuk Almira mulai bersiap-siap mengeluarkan sejuta kata-kata jahilnya untukku.
Dan sebelum Almira melanjutkan sejuta kata-kata jahilnya kepadaku, yang terkadang adakalanya sering membuatku kesel, akupun menutup buku bacaanku dan dengan ligat segera  menangkasnya. “Jangan-jangan apa?? Otak kamu tuh ya ra selalu saja di hinggapi asas-asas praduga tak bersalah. Aku masih normal dan baik-baik saja kali. Oke, today everything about true love. Yes, our discuss about true love. Sebelum saya jawab pertanyaan kamu, menurut pandangan kamu sendiri gimana ra?”
“Ampun deh nih orang, hellooo…saya yang nanya nona, kenapa jadi malah balik bertanya. Capek deh” jawab Almira kesal sambil menepuk jidatnya dan menghempaskan dirinya tepat di sebelahku duduk.
Akupun tersenyum geli melihat tingkah Almira barusan, sambil berkata “Hmmm, cinta sejati? Menurutku sih sebenarnya cinta sejati itu hanya ada untuk Sang Maha Pencipta ra”.
“Begitu ya” sambung Almira. “Terus menurutmu sendiri vi, cinta terhadap manusia itu bagaimana? Jika cinta sejati itu hanya ada untuk Sang Maha Pencipta. Banyakkan orang-orang yang mendengung-dengungkan bahwa cinta yang mereka miliki terhadap pasangannya adalah cinta sejati dan bla…bla…bla...banyak sekali, sehingga bagi mereka yang sedang merasakan jatuh cinta seolah-olah dunia ini hanya milik mereka berdua dan yang lainnya seolah-olah numpang alias ngontrak” sambung Almira seenaknya.
“Hehehe, ada-ada saja kamu ra” jawabku dengan santai. “Cinta terhadap sesama manusia itu suatu hal yang wajar ra, itu artinya berarti otak kita masih normal karena masih bisa merasakan cinta kepada sesama manusia. Cinta itu anugerah dari Allah ra, dan sudah menjadi fitrahnya manusia. Tapi cinta yang bagaimana dulu yang di maksud? Karena kalau kita salah dalam mengarahkan cinta, bisa-bisa bukannya bahagia yang kita rasa tapi malah celaka. Karena cinta yang belum halal itu hanyalah semu belaka ra, ada banyak kebohongan di dalamnya, juga ada banyak fitnah yang siap menghampirinya, bahkan jika kita salah dalam mengarahkannya maka bisa-bisa membuat kita jadi sengsara, dan jarang sekali membuat kita bahagia. Apalagi kalau katanya sudah jadi cinta buta. Hati dan mata kita bisa benar-benar buta, sehingga tidak lagi bisa membedakan mana yang halal, dan mana yang haram. Klo sudah begini adanya so pasti kita akan terjebak di lembah dosa. Tanpa melihat akibatnya, dengan dalih cinta maka zina pun oke baginya. Yang padahal itu bukanlah sebenar-benarnya cinta. Justru perbuatan nista yang di larang agama. Kalau atas nama cinta, maka kedua insan tersebut akan saling menjaga nama baiknya. Dan filosofi cinta itu sendiri tidak bisa didefinisikan oleh kata-kata Almira, jikapun bisa pasti akan rancu artinya”. Jelasku pada almira sekenanya.
“Begitu ya” jawab Almira sambil memanggut-manggutkan kepalanya. “Lantas vi, esensi dari cinta sejati itu sendiri apa? Jika dikaitkan dengan cinta kita terhadap manusia.
“Yach, kalau menurutku sih esensinya adalah ketika cinta itu mampu menjadikan kita menjadi seorang pribadi yang semakin dekat  kepada Sang Maha Pemilik Cinta, semakin membuat hati kita rindu kepada-Nya, selalu ingin mengenal-Nya, juga membawa kita untuk semakin mentaqarrubkan diri kepada-Nya. Cinta mampu membuat diri kita menjadi seorang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Sehingga cinta yang hadir di hati kita itu tidak melebihi cinta kita kepada-Nya, justru dengan adanya cinta itu malah akan menambah kekuatan bagi diri kita untuk semakin cinta kepada Allah SWT” tangkasku pada Almira.
“Tapi agak-agak susah sepertinya menemukan orang yang memiliki cinta yang seperti itu di zaman sekarang ini vi, apalagi saat ini…hadehhh seribu satu mungkin ya. Kebanyakan realita sekarang ini, banyak diantara diri manusia yang malah terbuai oleh cinta. Entah atas dasar apa cintanya. Lihat saja fenomena anak-anak zaman sekarang, mereka lebih mengagungkan cinta kepada manusia dibandingkan cinta pada Sang Pencipta. Banyak sebagian orang-orang yang tidak lagi merasa malu mengumbar kemesraan di luar sana dengan dalih cinta, padahal esensinya cinta mereka belumlah halal di hadapan-Nya. Gak peduli bagaimana itu cintanya. Sehingga cinta yang mereka punya justru mengalahkan cintanya kepada Sang Pemilik Cinta. Cinta telah membuat mereka lalai, dan tidak segan-segan melanggar aturan Tuhan sebagaimana yang kamu bilang tadi” selang almira dengan antusiasnya.
“Itulah ra realita yang ada, itulah yang akan terjadi jika cinta yang kita miliki tidak diiringi dengan keimanan di hati. Dan kita tidak mengerti aturan apa yang diinginkan oleh Ilahi. Dengan ketidak pahaman kita, kita akan menjadi salah dalam mengarahkan cinta yang sebenarnya. Sehingga kita menghalalkan segala cara demi cinta, padahal yang sebenarnya itu adalah dosa. Zaman ini sudah semakin menggila ra. Terlalu banyak modernisasi barat yang masuk ke negeri kita, yang sewaktu-waktu kapan saja mampu menghancurkan moral kita, dan membuat penghuninya tidak lagi memikirkan kata malu kepada Sang Pencipta. Makanya ra nanti kalau kita cari calon suami, jangan salah cari orang. Cari orang yang cintanya lebih besar untuk Sang Pencipta dibandingkan cintanya kepada diri kita.  Supaya nantinya bisa mengingatkan, menguatkan di dalam kebaikan, mampu menegur di saat lalai, dan bisa membimbing untuk selalu terus mengingat dan mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Cinta Sejati. Sebab menurutku hanya cinta yang bersemi karena iman, akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati Almira. Cinta yang seperti itu tidak akan lekang diterpa angin ataupun teriknya sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan walau sehari. Yahya bin Mu’az pernah berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” sambungku kepada Amira.
“Hmmm, ada benarnya juga kata-katamu vi. Jika kita salah memaknai cinta maka binasa yang kita punya. Bukan malah bahagia yang kita dapat. Sejatinya cinta memanglah kepada Sang Pencipta, tapi Allah juga memerintahkan kita untuk mencintai saudara kita, dan sudah seharusnya cinta yang kita punya itu dimaknai dengan benar, sehingga mampu membawa kita semakin mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Cinta yang sebenarnya, agar cinta itu tidak menjadi berlebihan dan kemudian mengalahkan cinta kita kepada-Nya” sambung Almira menanggapi kembali.
“Yach yang demikian itulah semestinya cinta ra, cinta kita tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang kita cintai tidak bertambah, maka cinta kitapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang kita cintai berkurang, maka cinta kitapun turut berkurang. Semua itu ada semata-mata hanya karena agamanya. Kita cinta kepada manusia bukan karena materi, pangkat kedudukan, atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Semua itu dilandaskan hanya di atas cinta-Nya. Allah lebih diutamakan di dalamnya. Menurutku itulah cinta suci dan sejatinya cinta, karena cinta sejati akan membawa kita kepada cinta Ilahiyah yang nyata, yang membawa damai dan tenangnya jiwa kita. Tidak ada sebenar-benarnya cinta sebelum ada kata halal di hadapan-Nya. Dan selebihnya, benar atau tidaknya pendapatku ini wa’allahu alam, hanya Allah yang tahu ra”. Jawabku penyambung perkataan Almira.
“Asikkk, mantap dah kata-katanya bu ustadzah Evi malam ini” ledek Almira terhadapku. “Ternyata seorang Evi yang selalu saja menhindar jika ditanya dan diajak diskusi tentang cinta, diam-diam menyimpan sejuta bahasa di dalamnya, dan luar biasa argumennya tentang cinta. Sebenarnya sih vi, masih banyak yang ingin ku tanyakan, tapi saat ini malam sudah membuat penglihatan mataku turun menjadi 5 watt” sambung Almira.
“Apaan sih kamu mira, ustadzah…ustadzah. Ustadzah cadangan atau gadungan dari negeri antah berantah yach hahaha…” timpalku pada Almira sambil tertawa lepas. “Baiklah ra, besok kalau kita ada waktu insyaallah kita sambung kembali diskusinya, karena malam ini waktu sudah semakin larut” jawabku pada Almira.
“Okelah kalau begitu, sudah saatnya kita rehat dan pergi tidur” sambut Almira.
“Selamat rehat Almira, semoga mimpi indah membawamu bertemu cinta sejati yang sebenarnya” sambungku kepada Almira.
“Aamiin, semoga begitupun sebaliknya untukmu. Jangan lupa jika dirimu malam ini kembali menemui langit, sampaikan salam rinduku kepada-Nya” kata Almira menyambut kata-kataku dengan senyum termanisnya.
“Insyaallah” jawabku kembali sambil membalas senyum Almira.
“Good night, have a nice dream Evi” .
“Have a nice dream too Almira”.

Tanpa terasa jam pun telah menunjukkan pukul 23.40 wib malam ini, Almira pun segera beranjak merehatkan jiwa dan pikirannya ke alam indahnya mimpi. Sementara diriku, mata ini belum juga bisa terpejam sedikitpun. Sepertinya hatiku masih penuh dengan konflik tentang segala rasa yang masih enggan pergi malam ini. Diriku saat ini bisa saja mengatakan bahwa diri ini baik-baik saja, dan tidak ada sesuatu apapun kepada Almira dan teman-teman lainnya. Akan tetapi, aku tidak bisa membohongi hati dan perasaan diriku sendiri tentang semua rasa yang ku alami saat ini. “Ya Robb, aku sedang merindukan seseorang, saat ini aku tidak bisa melerai rasa yang hadir dalam diri ini”,  lirih hatiku. Ku hela nafas dan ku tengok Almira sudah tertidur dengan lelapnya, melayang ke pusara mimpi indahnya. Dan diriku, belum juga bisa memejamkan mata ini. Ku lihat jam di dinding semakin mendekati tengah malam. Akupun segera bangkit dari sofa dan beranjak ke kemar mandi. Segera kubasuh wajahku dengan kesejukan air wudhu. Berharap air wudhu ini mampu menjeyukkan hati dan pikiranku yang sedang berkecamuk dengan rasa malam ini. Kemudian akupun kembali untuk menuju muara ketenangan di sisi-Nya. Ku gelar sajadah hijau kesukaanku, dan akupun mulai menundukkan kepala sepenuhnya memuji asma Robbku. Ku tunaikan sholat sunnah sebagaimana biasanya sebelum diri ini memutuskan pergi ke peraduan mimpi yang mengharu biru. Ku harap, Allah menjaga hatiku dan memberikan ketenangan pada jiwa dan pikiranku. Ku sandarkan sepenuhnya diriku pada pelabuhan Robbku, pelabuhan yang penuh dengan keteduhan dan juga kedamaian. Pelabuhan yang mampu memberikanku ketenangan dan membuat tangguh diriku dalam menyusuri lembah kehidupan. Akupun mulai terhanyut oleh lautan kasih sayang-Nya. Diriku pun sedikit demi sedikit mulai terbalut ke dalam amalan-amalan sunnah-Nya. Dan sholat sunnahpun tertunaikan dan kuselesaikan, kemudian tak lupa akupun mengambil mushaf merah jambuku. Sahabat yang selalu setia menemani di setiap perjalananku. Ku buka dan ku telusuri ayat demi ayat-Nya dengan penuh kekhusuyu’an diri. Tanpa terasa, diriku semakin tenggelam dan terhanyut oleh lautan indah cinta-Nya. Sehingga tak tersadar sampailah rasa kantuk itu menggelayut di kedua bola mataku, dan akupun mengakhiri tafakur ku malam ini.

Segera ku rapikan mukena yang sedari tadi menutupi tubuhku, dan juga mushaf merah jambuku. Sudah saatnya kini kumerebahkan tubuhku untuk menuju indahnya pusara mimpi malam ini, dan merehatkannya. Dan berharap esok pagi Allah akan membangunkan diri ini dengan keadaan iman yang semakin membumi. Terucaplah dari mulut ini sebuah doa, “Bismika Allahumma ahya wa amut. Ya Allah jagalah tidur kami, jauhkan kami dari mimpi buruk dan gangguan setan yang terkutuk”. Seketika langit-langitpun berdendang ria tentang cinta begitu indahnya, menyuarakan lagu ketenangan bagi para jiwa manusia. Bersama udara malam yang menggugah diri, bercampur kesejukan yang menyirami alam semesta ini. Malampun mulai membawa manusia ke dalam peraduannya bersama nyanyian biru yang bergema seantero jagad negeri, untuk menuju alam mimpi yang sempurna. Hingga esok sang fajar tersenyum dengan riangnya, menyambut jiwa-jiwa manusia yang selalu setia terhadap cinta-Nya.

Puncak bogor in memories,
with my backpaker community team 'Almira', 5 September 2013; 10.15 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar