Halaman

Rabu, 03 Januari 2018

PESONA DUNIA

Kembali tangan ini menuliskan tinta hitam disini, berbagi cerita, berbagi ilmu, dan berbagi inspirasi yang ada. Di pelataran dunia, mencoba untuk selalu belajar merangkai kata, mengisi diri untuk terus belajar atas ilmu yang belum seberaba. Terlebih ilmu agama, tak akan pernah bosan untuk menikmti pertualangannya.  Karena dunia, semua terlihat begitu eloknya. Hamparan pasir di lautan yang begitu mempesona, sampai hijaunya pegunungan yang menakjubkan mata. Semua menyuguhkan keindahan cerita dengan sendirinya. Seolah-olah semua hidup, dan mampu diajak bicara. Berbagai macam kisah dengan dialognya yang membahana, menghiasi dengan nyata. 

Itulah dunia, dimana kehidupannya penuh sandiwara, kadang ada tawa, kadang ada tangis, kadang ada bermuram durja, dan kadang ada ceria. Itulah dunia dengan segala lukisannya. Indah dipandang mata memang, namun terkadang penuh lika-liku di dalamnya. Sebagai manusia kita hanya mampu menatapnya, dan bermain peran di dalamnya. Dengan keimanan dan juga keilmuan yang kita punya.  Indah nuansa warnanya,  kadang membuat hati kita menjadi merah muda, namun tak jarang nuansa warnanya pun membuat hati kita menjadi abu-abu tua, ataupun jingga.  Pekatnya dunia selalu mewarnai hari-hari kita, ceritanya selalu saja lengkap dan ada untuk kita nikmati nuansanya. Beraneka cerita beserta alurnya, Allah telah siapkan untuk manusia sebagai kebutuhan hidupnya di alam raya. Ada yang terlena oleh pesonanya, ada yang terbuai oleh alunan syairnya, ada pula yang terlelap oleh gemerlapnya. Itulah dunia dengan segala keelokan dan daya pikatnya. Dunia telah meiupkan angin sepoi-sepoinya di kelopak mata manusia, sang maestro dunia. Sehingga membuat manusia tertidur dengan pulasnya, oleh karena keindahan dan kuasa dunia yang terlihat serba indah dalam pandang mata. Semerbak wanginya, telah membawa sebagian manusia lebih mencintai dunia. Tak lagi menghiraukan aturan Tuhannya, yang menciptakan segala keindahan alam raya. Terabaikan segala yang diperintahkan-Nya, karena semata-mata nafsu dunia telah mengusai dirinya. Itulah manusia yang tidak pandai bersyukur kepada Robb-nya. Yang jauh dari Sang Maha Peciptanya. Tanpa tersadar, mereka telah dijadikannya sebagai budak oleh dunia. Na’udzubillah ya...semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

Berhati-hatilah ketika memijakkan kaki di dunia, agar tubuh tidak terlena oleh pesonanya yang indah namun hanya sementara. Bagi manusia yang pandai bersyukur kepada Robb-nya, dunia hanyalah tempat persimpangan untuk menuju jalan-Nya. Bukan segala-galanya. Semerbak keharuman dunia tidak lantas menjadikannya cinta dunia. Justru segala pesonanya, membawanya semakin dekat kepada yang menciptakannya. Tidak lantas membuatnya terbuai, dan tertidur pulas di dalamnya. Apalagi sampai mengabaikan perintah Rabb-nya di atas segala kesibukan dunianya. Sungguh tidak pantas baginya untuk berleha-leha, apalagi sampai mengabaikan segala perintah Tuhannya di atas kesibukan dunia yang dia punya. Karena dirinya menyadari bahwa Allah lah yang telah menciptakan semuanya, dunia dengan segala peristiwa dan keindahan pesonanya. Baginya hidup ini laksana seperti matematika, yang banyak perhitungannya, yang penuh dengan rumus aritmatika dan logaritma. Yang butuh kehati-hatian dan ketelitian di dalam memasukkan rumus didalam perhitungannya. Adapun semua rumus yang ada, mampu membuat otak manusia dipenuhi oleh ketamakannya jika sampai salah menempatkannya. Karena jika kita sampai salah meletakkan rumus di dalamnya, maka hasil akhirnya akan menjadi kurang atau kelebihan jawabannya, atau bahkan sama sekali tidak menemukan hasilnya. Sehingga yang tampak indah sebelumnya, sebuah rumus yang telah tersusun dengan rapinya, lama-kelamaan mampu memberikan hasil akhir yang tidak mengindahkan pandangan mata. Ini bukan hanya cerita, tapi adalah nyata. Kita tidak bisa memungkirinya, jika sedikit saja kita terbuai dan terlena didalamnya, maka bersiaplah perlahan-lahan dunia akan mengancam kita dengan segala keburukannya.

Begitulah dunia, hingar bingarnya telah banyak membuat mata manusia terlelap di atas keindahannya. Terlebih dengan meluasnya kebebasan yang mampir di tengah-tengahnya. Dari yang katanya modernisasi, emansipasi, bordeless word, sampai ghazul fikri telah ikut semarak mewarnainya. Kesemuanya mampu membuat sebagian penghuninya tertawa dengan renyahnya, karena menganggapnya suatu perubahan yang mengantarkan mereka pada kesempurnaan jalan dunia. Dan sebagai simbol kebebasan atas dirinya. Lihat saja sekeliling kita, kita mulai temui ada anak muda yang sudah mulai sedikit berkurang rasa sopannya kepada orang yang lebih tua. Tawuran antara anak sekolah terjadi dimana-mana. Tontonan televisi yang kurang mendidik acaranya. Seragamnya saja SD, SMP, dan SMA, namun isi di dalamnya 90% kebanyakan drama percintaan saja. Yang terlihat cerita lebay dan mengada-ada. Sehingga pergaulan bebaspun kini tak luput dari sorotan mata dunia. Zina sudah dianggap biasa, akibatnya married by accident jadi hal lumrah di mata. 

Mirisnya lagi, banyak diantara kaum wnita di dunia ini yang tak lagi menghiraukan bagaimana cara menjaga aurat tubuhnya. Hanya karena supaya terlihat modern katanya. Sebagian dari keelokan tubuhnya tanpa rasa sayang sengaja dipertontonkan dengan bebasnya, agar bisa di pandang oleh mata siapa saja yang menginginkannya. Auratnya yang terlihat oleh mata yang bukan saudaranya dianggapnya lumrah dan sesuatu yang biasa-biasa saja. Anehnya hal itu dijadikan suatu kebanggaan bagi mereka, karena menganggap diri yang telah modern menurut hatinya. Andaikan saja seluruh wanita tahu, jika dunia ini tidak akan pernah membawa kita pada kebahagiaan di penghujung akhirnya, mungkin kita tidak akan terlena di dalam kebebasannya. Andaikan saja seluruh penghuni dunia tahu, jika satu hari di dunia ini sesungguhnya seribu hari di alam akhirat sana, mungkin mereka tidak akan berlama-lama terlelap dalam tidur panjangnya. Andaikan saja seluruh wanita tahu, bahwa seorang wanita jika keluar rumah dengan pakaian yang memperlihatkan setiap keindahan bentuk lekuk tubuhnya, maka sesungguhnya wanita itu dengan sendirinya telah menyediakan satu tempat di neraka untuk orang tuanya. Dan andaikan saja seluruh wanita tahu, jika ada satu kaum lelaki asing saja yang bukan muhrimnya sampai melihat keindahan rambutnya, apalagi sampai lekuk tubuhnya, maka sesungguhnya mereka telah ikut  menabur dosa di atasnya. Jika saja seluruh wanita tahu akan hal tersebut, mungkin mereka akan segera memperbaiki segalanya. Dan bersegera memenuhi sanubari dengan segala keimanan dan ilmu akan agamanya. 

Itulah dunia, tak jarang ulahnya telah memalingkan muka penghuninya. Budaya barat sampai eropa, menjadi asupan bagi manusia yang terbuai oleh nyanyian dunia yang fana. Berlimpah ruah segala gejala yang dibawa, dengan keindahan yang penuh tipu daya, sampai-sampai mampu melenakan hati pengemudinya. Iman tak lagi dijaga di dalamnya, bahkan moral terkadang menjadi ancaman manusia. Mereka palingkan muka terhadap perintah agama, sampai dosa kecil hingga besar dianggapnya biasa. Entahlah, ini berita atau suatu bencana kelihatannya. Hanya satu hal yang mampu membawa keselamatan di dalamnya, manusia yang mampu berjalan di pelataran dunia dengan kemantapan iman di hatinya. Manusia yang mampu melawan segala hingar bingar dunia dengan agama yang terpatri kuat di dalam qolbunya. Manusia yang mampu mengokohkan pondasi keislaman di dalam tubuhnya. Dan manusia yang takut akan azab Tuhannya. Para penghuni mewangi dunia, sahabat-sahabatku seantero jagad raya, mari kita sama-sama belajar memperbaiki diri, sebelum dunia menenggelamkan kita ke dalam keganasan gelombangnya. Agar diri kita tidak terjerumus oleh keelokan dunia yang tak bertepi. Karena terkadang dunia bercerita dengan kegarangannya,  terkadang dunia bercerita dengan  kesenangan dan kenikmatannya. Semua itu hanyalah lukisan belaka, agar penghuni dunis bisa terlenap. Hanya dengan membangun kedekatan diri kepada Sang Maha Pencipta, kita mampu mengendalikan dunia dan segala gejolaknya. Dan diri inipun mengakui bahwa semua yang ada tak seindah pandangan mata, di kala dunia berkata bahwa sang penulis pun tak luput dari dosa. 

Kepada Allah sajalah semua bermuara, karena pengampunannya yang selalu ada. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar