Halaman

Jumat, 01 Juni 2018

HIDAYAH part 1

Sore di beranda itu, seseorang datang. Hanya untuk mengucapkan, "Aku akan pergi dan mengakhiri semua sampai di sini". Tidak banyak yang diucapkan, bahkan ketika aku berusaha untuk membuka mulutku, dia tetap saja pergi bersama kata-kata yang diucapkan tanpa menghiraukan keadaan. Sementara aku, terdiam mencoba memahami maksud kata-kata itu. Entahlah..., Apakah dia takut mengetahui kebenaran yang akan kukatakan, atau dia telah mengambil jalan yang baru. Sementara aku disini, terdiam dan membiarkan dia pergi tanpa memberi alasan. Mungkin ini kehendak Tuhan, bahwa semua perjalanan itu tidak harus sesuai dengan harapan. Walau hati penuh pertanyaan, tapi apalah daya Tuhan yang memiliki kewenangan. Dan semua keputusan adalah milik Sang Pengendali Kehidupan, kini dan selamanya hanya DIA sebaik-baik pengharapan bagi setiap perjalanan.

Aku benci dengan semua rasa ini, selalu saja terlihat seperti berlenggak-lenggok di tengah lautan dan pegunungan yang ku singgahi. Rasa ini selalu saja membayangi diri. Kenapa hari ini tak ku temukan damai disini? Kenapa semua tak bersahabat padaku sore ini? Padahal aku berharap kalian akan memberikan senyuman padaku hingga fajar nanti. Tiba-tiba saja hari ini aku merasa benci pada laut dan pegunungan yang menatapku sejak tadi. Kemelut bergelayut di otakku sejak tadi. Kejadian sore itu, telah membuat buntu ideku. Bahkan laut dan pegunungan yang selalu menentramkan hati, saat ini tak mampu membawa damai jiwaku. Padahal mereka yang biasa menjadi sahabat hati. Suasana alam yang selalu menjadi tempat singgah diri, kini tak mampu lagi melerai segala gundah diri. "Aku akan meninggalkan kalian pergi dan aku tidak ingin kembali kesini...aku benci, kalian telah mengkhianati diriku kali ini!!" Jeritku dalam hati pada laut dan pegunungan hari ini. Entahlah, mungkin aku benar-benar telah kalah hari ini. Oh Tuhan, serapuh ini kah diriku kini. Ratapan itu menyeringai menghampiri. Seolah raga tak mampu lagi bertepi. Semoga badan ini masih diberi kekuatan oleh Illahi. Sehingga tak luntur kedewasaan iman yang terpatri.

Aku lunglai diri kini. Aku menginginkan siang segera beranjak pergi, agar aku bisa berbincang-bincang kepada langit seperti malam-malam kemarin yang menghampiri diri. Ingin ku adukan semua rasa yg sedang menyelimuti hati sejak tadi, ingin ku adukan tentang perilaku laut dan pegunungan hari ini. Ya Robbi, biarkan aku tenang menyusuri siang-Mu saat ini. Berikan aku rasa damai, di atas perjalananku hari ini. Agar raga ini, bisa menghampiri di sepertiga malammu nanti.

Jaga hati, jaga pikiran ini.
Walau waktu itu tak bisa ku putar lagi
Tapi aku yakin masih ada sinar mentari
Sebab Allah bersama orang-orang yg sabar diri
Yakinlah, akan ada sebuah penyelesaian pasti
Teruslah taat kepada Sang Illahi
Jangan menangis karena ulah bumi
Apalagi cerita dunia yang fatamorgana ini
Sudah!! jgn banyak komentar lagi
Lakukan saja semua dg benar perintah Illahi
Karena terang akan segera menghampiri.

Malam ini ingin ku urai semua misteri, berharap esok atau lusa ku dapat temukan damai diri. Dan pergi dari kemelut hati yang mengusik jiwa ini. Pelan-pelan ku beranjak pergi, meninggalkan jejak kepada lautan dan pegunungan yang sejak tadi menyeringai senyuman tanpa arti. Namun belum saja sempat badan ini berdiri untuk pergi, tiba-tiba suara Almira memekakkan telinga ini.

"Duar, ngelamun aja. Awas kesambet jin laut nanti hahaha.." (suara khas almira memecah suasana lamunan ku sore ini)
"Almira bikin kaget aja. Siapa yang melamun, asal tebak aja dirimu ini" (jawabku sesuka hati)
"Terus apa dong namanya kalau bukan melamun, dari tadi Almira amati dari jauh dirimu itu diam saja. Tidak seperti biasanya."
"Orang diam saja bukan berarti melamun kan mira? "
"Terserah kamu sajalah. O iya Zahwa bagaimana pertanyaanku yang kemarin, masa gak dijawab2 sih. Hayoooo Zahwa lagi galau ya." (sela Almira dgn gaya khas ledakannya).
"Pertanyaan yang mana sih Almira, bukan kah semua pertanyaan sudah kita diskusikan semua sejak kemarin di kamar hotel ini.
"Iya betul tapi itu yg kita bahas baru dua pertanyaan, pertama tentang cinta dan kedua tentang hobi kita.  Dan masih satu pertanyaan lagi yg belum terselesaikan". (Jawab Almira)
"Pertanyaan yg mana lagi sih ya Almira" (jawab Zahwa kembali)
"Iniloh, baca dong ini biar ingat". (Timpal Almira sambil menyodorkan secarik kertas di hadapan).
"Oh pertanyaan ini, ya Allah maafkan aku bukan tidak mau jawab, hanya saja kan semalam sudah terlalu malam, dan mata sdh tak bersahabat utk diajak jaga menyelesaikan semua cerita". Jawabku setelah membaca sebuah pertanyaan di secarik kertas dgn bertuliskan...'bagaimana cara kita mendapatkan hidayah Illahi, dan apakah benar jilbab syar'i itu wajib'.

Ku pandang wajah sahabatku Almira yang kini duduk di hadapanku. Tak percaya rasanya, melihat dia sangat mengharapkan sekali jawaban dari pertanyaan itu. Biasanya dia terlalu cuek dan tak peduli dgn pakaian ini, apalagi untuk urusan jilbab syar'i. Namun hari ini, ini merupakan hal istimewa yg aku dapati. Tanpa ku ketahui, diam-diam Almira mulai mencari hidayah Illahi tentang ilmu jilbab syar'i. Ada bahagia menyelimuti, rasa ini diam-diam telah mengalahkan kemelut yang bergelayut di otak sejak tadi. Gembira menghampiri, semoga jalan Almira dimudahkan Illahi.

"Ini pertanyaannya seriusan kah Almira?" (lanjut perkataanku kepadanya)
"Ya iya lah serius nona Zahwa, masa ya iya dong. Mmgnya muka saya terlihat lagi bercanda, nih tatap bola mata saya hahaha". (jawab almira sambil tertawa lepas)
"Oke kalau begitu Almira, besok sore kita akan kupas tuntas tentang hidayah dan jilbab syar'inya".
"Ah besok lagi, sekarang saja dech. Nanti dirimu lupa lagi". (Sela Almira khawatir)
"InsyaAllah tidak Almira". (Timpalku sambil tersenyum manis)
"Baiklah kalau begitu, tapi sedikit saja... Sebenarnya hukum jilbab syar'i dlm islam itu apa? Dan gimana dapatin hidayah-Nya?"
"Hukumnya wajib, dan hidayah itu kita cari bkn datang sendiri. Sudah ya besok saja kita bahas panjang kali lebarnya. Hari ini aku lagi ingin sendiri Almira, ingin memuhasabah diri sambil mentafakuri ayat2 qauniyah Sang Illahi. Mengerti ya?" (mintaku pada Almira agar dimengerti)
"Sip lah kalau begitu, tapi janji ya besok ditunggu sharingnya lagi. Hati-hati loh jgn melamun lagi, ini pantai banyak jin usilnya nanti dirimu dibawa lari hahaha". (Jawab Almira menggodaku sambil berlalu pergi)
"Iya Almira" (jawab singakatku sambil membalas lambaian tangannya kepadaku)

Dan angin pantaipun bertiup dengan kesejukannya sendiri, namun membawa ketenangan di hati. Hembusan anginnya menyeringai bumi, melenakan raga sang penghuni duniawi. Dan aku masih disini, berdiam diri bersama nuansa alam yang menyapa hari. Mencoba menata hati, menguatkan pikiran ini, agar tidak terperosok ke jurang yang membawa mati. Karena kaki masih ingin tegak berdiri, mendewasakan iman samapai mati. Ya Illahi bimbinglah selalu kami, disini di muka bumi ini.

*Cerbung
By. Evi H. Efendi

Senin, 28 Mei 2018

MENJAGA HATI

“Jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini”. Begitulah sepenggal lantunan nasyid tentang hati yang mengingatkan kita agar selalu untuk bisa menjaga hati kita. Karena hati merupakan lentera bagi kehidupan kita. Jika hati kita baik, maka baiklah hidup kita. Sebaliknya jika hati kita jelek, maka jelek pula lah hidup kita. Hati sangat berpengaruh di dalam kehidupan kita. Maka sudah semetinya kita mampu menjaga hati kita, sebagaimana pesan yang disampaikan oleh lantunan syair jagalah hati tersebut. Karena jika hati kita sampai ternodai, maka bisa membuat diri kita menjadi hilang kendali. Hati  yang ternodai, akan sulit untuk bersikap arif. Semua tak bisa lagi tersusun rapi dengan keindahannya. Ketika hati hilang kendali karena sejenak diri kita lupa kepada-Nya, maka kelembutan hatipun dapat luntur seketika. Apalagi tatkala emosi yang bicara, maka ego mampu meluap dengan luasnya. Itulah sebabnya, mengapa ruhiyah wajib kita jaga kemurniaannya dengan sebaik-baiknya. Tanpa mengenal waktu, hari, bulan, bahkan tahun. Ruhiyah wajib selalu kita isi, bahkan kita update agar selalu terjaga dan tidak ada virusyang bisa mengotorinya. Karena hati sangat besar pengaruhnya, hatilah yang mampu menunjukkan  siapa dan bagaimana diri kita sebenarnya. Seorang yang lembah lembutkah kita, atau seorang yang arogankah kita. Hendaknya kita mampu jaga hati dari arogansi diri, agar ia tidak keraslalu mati. Menjaga hati dari segala kobaran emosi, agar ia mampu terkendali dan tidak menyakiti. Memang ada kalanya kita sebagai manusia melakukan khilaf karena segala ulah bumi, sehingga tak jarang membuat diri hilang kendali. Sehingga emosipun meluap kian menjadi-jadi. Akan tetapi, apakah lantas yang demikian itu mampu mengarahkan kita pada ketenangan hati? Tak sepatutnya jika kita langsung menghujani bumi dengan bara emosi, karena segala peristiwa bumi yang tidak mengenakkan hati. Sebab hal tersebut tidak akan membawa kita menepi, apalagi membawa pada ketenangan hati.

Kita memang bukan Rasulullah SAW yang mampu menjaga kelembutan hati dengan eloknya diri, yang mudah memaafkan segala kesalahan dengan segala ketulusan hati, yangmemiliki ruang keikhlasan sangat luas bagi penduduk bumi. Tapi, apa salahnya jika kita berusaha untuk belajar mengikuti, kita berusaha untuk bisa meneladani. Tidak harus dengan sifat yang sepenuhnya sama dengan Beliau, atau90% menyamai.  Tetapi setidaknya kita mampu mengambil sebagian dari apa yang Beliau contohkan, untuk kita pelajari. Yang kemudian kita implementasikan di kehidupan sehari-hari, walau tidak sepenuhnya menyerupai. Memang terasa sakitnya hati, ketika sebuah kepercayaan dikhianati. Ketika sebongkah kemarahan menghujami tanpa permisi, kesemuanya itu mampu membuat luka diri. Kita mungkin tidak akan bisa menerima keadaan ini, dan akan bilang “sakitnya tuh disini, di dalam hati”. Sehingga mengakibatkan banyak luapan emosi yang mungkin tidak mampu kita jaga lagi, bahkan tak sering membawa dendam dalam diri. Sungguh ironis melihat kenyataan yang seperti ini.

Sekarang, mari kita sama-sama coba pikirkan..., apakah iya kita tega membiarkan hatimenjadi mati? Atau membiarkan hati yang sedang sakit itu kian menjadi-jadi? Ingat, bahwa kita tidak akan menemukan kedamaian di dalam hidup, ketika kitatidak mampu mengendalikan segala luapan emosi, yang kerap membanjiri ruang lingkup diri. Karena kita hidup di persimpangan bumi, yang kapan saja luapan peistiwanya ada yang mampu membuat kita menjadi sakit hati. Itulah sebabnya kita harusmampu mengantipasi diri. Ibarat tubuh, jika kita sudah mulai merasakan tubuh ini kurang fit atau tidak sehat, pastinya yang kita lakukan adalah mencari dokteratau pengobatan untuk tubuh tersebut, agar tubuh tidak menjadi lunglai seketikadan sakitnya semakin menjadi. Begitupun dengan hati, jika kita merasa sudah mulai tak bersahabat lagi karena ulah bumi yang menghampiri, maka segeralah mencaricara untuk segera memperbaiki, agar sakitnya hati tak semakin menjadi. Segeralah ingat sang Illahi, beristighfar dan memintalah kelembutan tangan-Nya agar mengusap dada kita, sehingga diri terjaga dari luapan emosi. Karena jika emosi telah menguasai diri, maka logika tak mampu lagi berpikir dengan jernihnya. Hati tak mampu lagi memberi kelembutannya.

Hati-hatilah dengan hati, pandai-pandailah diri mengelolanya dengan pupuk made in Illahi. Jangan sampai arogansi diri membawa kita pada kerasnya hati. Jangan sampai sulutan emosi yang ada membawa kita kepada sakitnya hati. Jangan sampai kerasnya hati, sakitnya hati, kemudian membuat hati kita menjadi mati. Memang gampang-gampang sulit menata hati, memang tak seringan berkata-kata menjaga hati. Dan tidak juga semudah seperti membalikan kedua tangan menstabilkan hati. Apalagi jika yang punya hati telah tersulut oleh peristiwa arogansinya bumi. Tetapi, apakah lantas sikap kita harus tiba-tiba menjadi dingin oleh bumi? Sesungguhnya tidak harus demikan. Tidak pantas kita marah pada bumi, apalagi menyombongkan diri.Tidak pantas kita bangga diri, jika kita belum bisa mengelola hati, jika dirimasih dengan mudahnya tersulut oleh lautan emosi.

Ketahuilah bahwa kita adalah pengemudi sang hati, diri kita sendirilah yang mampu mengatur hati di atas lembar hitam putihnya kehidupan ini. Labuhkanlah diri pada istana Illahi, agar  kita mampu menjaga dan mengelola hati, sehingga terjauh dari segala ego diri yang bisa membakar emosi. Damaikanlah hati pada cahaya Illahi, agar menjadi tentram setiap langkah kaki. Ajaklah hati menuju muara cinta Illahi, agar tenang jiwa dan pikiran diri. Indahkanlah hati pada kerendahan diri, agar kita mampu melihat setiap sisi. Takakan merugi kita melunakkan hati, pada semua ulah bumi yang kerap menghampiri. Memaafkan segala yang menyakitkan hati, itu lebih arif diri, dan akan menghindarkan kita dari bengkaknya hati. Sebesar apapun itu, sesakit apapun itu, tempatkanlah hati pada kelembutan yang memperindah diri. Jangan sampai salah menempatkan hati, karena itu bisa membawa kita pada jurang yang menistakan diri. Apapun prilaku bumi, mencobalah berdamai dengan segala kelembutan hati yang kita miliki. Karena tidak akan mati harga diri, ketika kita memilih untuk lebih melembutkan hati di dalam menghadapi segala ulah bumi yang mungkin menyakitkan hati. Sebagai seorang muslim yang sejati, sudah sepatutnya kita pandai menjaga hati agar tak tergelincir kaki oleh arogansi bumi. Dan yang lebih penting adalah bersyukur selalu kepada Sang Illahi.