Halaman

Kamis, 29 Maret 2018

PENGAMEN ITU GURU TERBAIKKU, part 2

Malam ini banyak cerita yg tertuangkan olehku, bersama mereka ku ceritakan dan ku bagikan sambil kembali flashback ke belakang...Ternyata Allah begitu Maha Penyayang. Kau masih tetap memegang dan menjagaku. Walaupun KAU tahu, dulu diri ini hampir saja berpaling&lalai dari-MU. Tapi, lewat pengamen itu kemudian Kau menampar keras pipiku. Entah kenapa tiba-tiba hatiku tergelitik oleh sosok pemuda cacat itu.  Masih ku ingat jelas semua itu, bus 45 yg menjadi saksi bisu. Dan di dalam kerumunan sepanjang bantaran rel itu. Semua terasa hitam, pekat, menyerbu tubuhku. Seakan kilat siap menyambar kedua kaki&tanganku.  Ku akui segala salah&dosaku. Hanya sebuah tuntutan pekerjaan ku ubah penampilanku, walau kerudung ini tetap setia di kepala&menutup dadaku. Namun, jilbab ini tak selebar dulu. Tapi kini...pakaianku, blezerku, celana panjangku, highills ku, dan juga juluran jilbab yg mulai setengah tiang terjulur di bajuku. Kini aku telah jauh dari diriku yg dulu. Saat itu, hanya ukiran bersalahku yg menyerinai di mataku. Kata-kata pengamen itu benar-benar menusuk dadaku bak sembilu. Lantas apa arti semua kesenanganku? Lantas apa arti semua keangkuhanku? Lantas apa arti semua keberhasilanku? jika aku semakin jauh kepada-MU. Dimana rasa syukurku. Tersungkur aku dengan buih kristal dimataku. "Allah, aku kembali rindu kepada-MU. Aku ingin sekali melangkah pergi dan kembali bertemu dengan-MU. Aku rindu diriku yang dulu. Maafkan segala kesalahan dan kelalaianku. Biarkan aku kembali merengkuh kasih-MU dalam balutan cinta-MU" (teriak hatiku).

Sungguh, pengamen itu telah mengajariku. Dia adalah guru terbaikku di kala itu. Guru spiritual yg telah mengulurkan tangannya dengan segala keikhlasan yg nyata. Wajahnya memang sederhana, terlihat jelas kekurangan fisik tubuhnya, tapi keimanan selalu menyapa hatinya. Dan, kini dia menjadi sahabatku di ibukota. Suatu ketika dia pernah berkata, "Sekalipun hidup ini susah kita tidak boleh berpaling dari sang Maha Pencipta, jangan pernah gadaikan keimanan kita hanya karena keindahan dunia semata. Ini ibukota, banyak orang bekerja tanpa memperdulikan agama. Yang penting mereka bisa hidup kaya dan menjadi sukses di mata dunia. Hati-hati jgn sampai dirimu terperosok oleh halusinasi hedonismenya. Kamu tahu mbak, kenapa diriku ngamen? sekalipun tangan ini cacat, fisik yg kurang tapi saya tidak boleh meminta-minta. Karena Allah tdk suka sama orang yg hobinya suka meminta-minta, malas berusaha. Allah benci dengan orang yang suka minta-minta.  Kelemahan diri dijadikan alasan krn ketidak berdayaan kita. Kecuali jika tubuh ini sudah tidak bisa diajak lagi utk berusaha dan bekerja mba. Begitu katanya. Sang pengamen yang secara kasat mata terlihat cacat tubuhnya, tapi tidak untukku. Keimanannya telah menutup semua kekurangannya itu. Tak terasa mengalir buih kristal di mataku, yang membuatku semakin bertambah rindu akan pertemuan Robbku, bersama mereka sahabat-sahabat mewangi surgaku.
..............***........

Akhir tahun 2009; Kini ku katakan...inilah duniaku, semua terasa lembut menyentuh hatiku. Allah Maha Rahiim, telah merangkulku kembali untuk menitahkan kakiku. Allah telah mengirimkan  guru terhebat untuk menegur perjalananku. Kini, aku kembali pada-MU. Mencoba untuk kembali belajar  membesarkan asma-MU, kembali memperbaiki diri dan penampilanku, untuk mejadi sosok yang baru. Selamat tinggal kantorku........., kini ku putuskan utk kembali ke negeri kelahiranku. Berharap jika esok Allah mengembalikanku lagi ke ibukota itu, aku sudah bisa tegak utk melawan arus dunia yg penuh tipu daya ini. Semoga ku temukan suasana baru  di tempat bumi kelahiranku, bersama balutan iman yang ku rindu, bersama sahabat-sahabat lamaku, aku ingin kembali berjuang bersama kalian di situ. Dan kantorku, BEJ tower, kawasan sudirman dan sekitarnya...perjalanan bersamamu, merupakan pelajaran sangat berharga bagiku. Walaupun hanya dalam singkatnya waktu.

Biarkan semua kisah itu berlalu. Kini aku telah kembali, kembali menemukan diriku yang ku rindu. Dan inilah dunia, dengan segala kisah yang memburu. Bermacam cerita hadir untuk diambil pelajarannya. Dengan segala konsepsinya, kadang mampu membuat mata menangis karenanya, bahkan kadang mampu membuat tubuh ini terlena dibuainya. Sehingga masih ada saja orang-orang yg lbh mengutamakan cinta dan puja dari manusia ketimbang dari Tuhannya. Padahal apalah arti dunia dipuja oleh sesama, jika dalam pandangan Tuhan diri kita dinista. Apalah arti kebanggaan dunia, jika akhirat kita tersiksa dan mendatangkan murka. Disebabkan oleh rindu ini, maka hati memutuskan untuk menepi, merengkuh cinta-Nya kembali dengan pakaian takwa yg ku miliki. Semoga istiqomah sampai akhir hayat hidupku nanti.

On my way at memories...
😊😍😍😍😊

Senin, 19 Maret 2018

PENGAMEN ITU GURU TERBAIKKU, part 1

Jakarta, Juni 2008; Ini adalah tepat untuk ketiga kalinya ku pijakkan kaki di ibukota negeriku tercinta. Bukan utk keperluan kuliah apalagi utk sebatas memnuhi wawancara kerja. Utk hari ini, itu sudah cukup dulu bagiku. Hello...! apakah kalian tahu, ada kabar gembira utkku hari ini. Pagi ini adalah awal aku masuk kerja. Luar biasa Allah Maha Indah, inilah mimpiku saat kuliah dulu. Masih teringat jelas, dulu pertama kali ku pijakkan kaki di gedung megah ini, di kawasan ini, pada saat field trip bersama teman-teman semasa kuliahku dulu. Saat itu pernah karna disebabkan oleh keisenganku...seorang dosen menegurku, "Kalian disini itu tidak ada apa2nya, ilmu kalian itu masih terlalu kecil, hanya orang2 terpilih yg bisa masuk kesini. Lihat, mereka semua itu adl para eksekutive muda yg berkelas dan berwawasan, serta memiliki inteligensi yg tinggi. Kalian tahu, kawasan ini adalah kawasan bonafite. Jadi jangan buat yg aneh-aneh disini, dengarkan, ikuti semua pengarahan dan pemaparan dg benar. Tanya saja apa yg seharusnya ditanyakan, jgn provokatori teman-temanmu dengan sifat ingin tahumu yg terlalu berlebihan." Hmmm, waktu itu cuma bisa manyun sebel dengar kata-kata bu dosen. Jika ingat itu...rasanya spt baru saja kemarin terjadi. Dan spt mimpi jika hari ini, kaki ini bisa berdiri dan duduk di sini. Hey girl...look, this is trading floor, this is real, this is not dream (batinku dlm hati). Aku bisa mengatakan..."hello...your account number, please your take action now" dg ditemani seperangkat headphone di telingaku&sepasang monitor utk menganalisis semua pekerjaanku. Inilah yg dulu hanya bisa ku lihat dari atas sana dan dibatasi oleh kaca saja, sambil di teriakin sama sang satpam, hey kamu!! jgn terlalu mendekat ke situ, dan di larang memfoto. Jika ingin melihat harap agak sedikit menjauh. Ngenes banget dah rasanya waktu itu heheee....
----------------------**

Siang ini kakiku terburu-buru. Langkah seribu ku ambil memaju sang waktu. Segala gundah dihatiku membuat barantakan semua agenda kerjaku. GM telah berkali-kali memanggil-manggil lewat ponselku, dan selalu menanyakan ada dimana diriku. Aku tahu, hari ini jadwalku persentasi utk salah satu calon klien perusahaanku. Huwaaaaa, persoalan itu telah merusak pikiranku dan sedikit membuat berantakan segala planing kerjaku. Macetttttt, kau membuatku bisu. Tapi tidak untuk ponselku. Ku lihat jam di tanganku sudah menunjukkan angka 10.30, padahal janji pada klien jam 10.00, krn jam 9.00 sdh open market.  Sementara di lain tempat, sang GM terus memanggil dan memantau perjalananku. Yang akhirnya tepat jam 11.00 baru bisa ku langkahkan kaki menaiki lift utk masuk ke ruang kerjaku. Dan disana sdh ada sang GM yang menyapaku, "Ini sdh jam berapa evi, sebentar lagi sdh close market dan jam segini kamu baru sampai kantor. Gagal sudah planing kita hari ini, calon klien kita sudah marah-marah". Begitu diriku kena omelannya. Huft! Ya sudahlah. Nikmati saja pikirku. Ah, macet macet terkadang kau selalu saja membuat masalah untuk diriku. Tapi apa mau dikata, inilah realita jakarta. Dimana semua ada, dari pesona indah sampai pesona resah. Dan itulah yang ada dalam kisah. Jiwaku yang sekarang bergelayut tak menentu. Tentang pekerjaanku, tentang hobi menulisku, tentang penampilanku, dan juga tentang kehebohan teman-teman holaqohku dulu. Ah, aku rindu! Terselubung dalam satu kelambu. Kini, otakku menjadi kacau tak menentu. Yang ku tahu hanyalah, aku rindu.
------*****------

Slipi, Maret 2009; Ini adalah tepat hari lahirku, tapi entah mengapa aku merasa tak ada satupun perubahan dalam diriku. Yang ada aku merasa semakin modis saja dg penampilan kerjaku. Tak ada lagi androk melilit pinggangku. Yang selalu ada hanya setelan blezer dengan celana panjangku. Walaupun jilbab masih menutup dadaku. Tetapi ada resah menggelayut di hatiku. Di sekitarku, tak nampak ku lihat bahkan tidak pernah ku temui pemandangan seorang wanita yg berbaju syar'i. Oh Tuhan, apa ini? Benarkah ini jalan yang Kau beri? Setiap hari bergelayut semua ini dalam hati. Tanda tanya, tanda keresahan diri yang terus saja menghantui. Rasanya ada sedikit rindu menggelayut dihatiku, ada sesuatu yang aneh pada diriku. Terlebih setelah peristiwa konflik kecil itu. Dimana jati diriku yg dulu? Karena peristiwa itu, tiba-tiba aku teringat kesalahan-kesalahanku kepada Sang Maha Pemilik Waktu. Tuhan, dia telah mengkhianatiku. Picik sekali ulahmu, batinku. Puas tertawa, kau telah berhasil menjatuhkan diriku. Ambillah semua yang menjadi hakku, berlarilah sesukamu. Berputar-putarlah di atas penderitaanku. Menarilah di atas dukaku. Tersenyumlah menyambut kekalahanku. Tiba-tiba saja badanku terasa layu, seperti tak berpijak menyusuri trotoar jalan ini. Menjerit rindu pada diriku yang dulu. Inilah kuasa-MU, yang telah KAU hempaskan aku ke dalam kesia-siaan yang terbungkus sembilu. Berkecamuk hatiku, mengenang semua memori masa laluku. Dan mulai membandingkan dengan diriku yang kini sedang layu karena ulah patner kerjaku. Kantorku kini rasanya bak penjara bagiku. Serasa seperti tirai besi yang membisu, yang memberikan kesengsaraan diri di perjalananku. Tiba-tiba terbayang mereka dalam pelupuk mataku. Para akhwat, dan para murobbiku, satu persatu wajah mereka mulai bergelayut di binar mataku. Tanpa menghiraukan tubuhku, kaki terus ku paksa berjalan menyusuri jalan yang tak ku paham. Ku ayunkan saja kaki, dan menaiki bus tanpa melihat kanan kiri. Dan kini, di dalam sebuah  bangku bus, seketika mataku tertuju pada seorang pengeman yg berdiri tepat di depanku. Seorang pengamen dengan pakaian hitam putih dan peci hitam di kepalanya, sangat rapi sekali. Dengan keterbatasan mentalnya, ia bersemangat sekali mengais rezeki di siang bolong ini. Pancaran wajahnya terlihat ada keteduhan dan ketenangan di sana. Kehadirannya membuatku terpana, apalagi setelah mendengar suara merdunya dan doa-doa baik yang terucap dari mulutnya. Subhanalllah, Allah telah menciptakan tiada kesia-siaan. Karena di balik kekurangannya tersebut, Allah memberikannya sebuah kelebihan yang tidak semua orang punya. Aku pun semakin terdiam, tak terasa hanyut antara kekaguman dan kesedihan.
..........................................................

Karena otakku yang sedang buntu dengan pikiran yang tak menentu, oleh sebuah masalah yang tak mampu melerai kemelut jiwaku, menjadikan diri lupa oleh jurusan kemana yang hendak ku tuju. Tak sadar, ternyata aku telah menaiki bus yang salah untuk menuju ke tempat tinggalku.

***

Senin, 12 Maret 2018

SEMANGAT PAGI DUNIA

Semangat pagi dunia..., ku sapa engkau hari ini dengan penuh suka cita. Semoga cerahnya harimu di pagi ini membangkitkan semangat para manusia sang mewangi surga. Keindahaan sang mentari pagi telah membuat semua manusia bersorak gembira, karena keceriaannya yang menghiasi bumi tercinta. Apalagi kalau sudah hari libur tiba. Serasa inginnya berleha-leha, sedikit bermalas-malasan. Apalagi setelah sepekan disibukkan oleh aktivitas di luaran. Saatnya untuk rehatkan badan, dan manjakan diri dengan segala perawatan. 

Semangat pagi dunia, semoga kemudahan selalu menyertai kita di sepanjang perjalanan hidup ini. Tak lupa untuk selalu ucapkan doa seraya memuja asma-Nya. Karena begitulah perintah-Nya, agar kita mengawali segalanya dengan doa, agar kita mendapat perlindungan-Nya, juga mendapat keberkahan dari-Nya. Sudah saatnya sekarang kita segera bangun dari tempat tidur yang melenakan raga, yang telah membawa kita pada buaian yang meluluh lantakkan jiwa. Cukup sudah hari ini kita berwacana, jika tanpa aksi yang nyata. Karena tidak cukup hanya dengan sebuah wacana saja, tetapi perbuatan yang perlu realisasinya. Begitu banyak peristiwa yang telah kita lewati sepanjang usia kita. Begitu banyak hal yang telah kita lakukan sepanjang perjalanan hidup kita. Tengoklah sebentar saja, apakah diantara peristiwa dan hal-hal yang menghampiri itu telah membawa perubahan pada diri kita? Terutama pada kedewasaan iman kita, apakah kesemuanya itu telah menjadikan kita sebagai manusia yang pandai bersyukur kepada-Nya? Pagi yang cerah, pagi yang begitu indah. Saat yang tepat untuk kita berdiam sejenak,  bermuhasaba diri untuk meningkatkan kembali semangat hidup yang telah lewat. Sebelum kaki melangkah, kembali mengejar matahari yang begitu cerah.

Lihatlah dunia, semangatnya menyerigai indah kepada manusia yang tak pernah lalai untuk bersyukur kepada Tuhannya. Walau kegarangan siang telah siap menyergap raga dengan teriknya, namun kelembutan paginya selalu mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan di atas sifat Rohimnya.  Indah dirasa, jika hati telah terpatri oleh kecintaan kepada-Nya. Jika hati telah terpaut oleh kepatuhan terhadap segala perintah-Nya. Semua telihat ramah terhadapnya, tak satupun yang bermuram durja atasnya. Tidak hanya penduduk bumi yang mencintainya, tetapi penduduk langitpun ikut mencintainya. Tidak hanya kesejukan dunia yang senang menyapanya, tetapi Tuhan dan penduduk langitpun senang menyapa dengan kelembutannya. Semua terbingkai indah dengan eloknya. Di kala hati telah mampu dengan sabar membangun kedewasaan imannya, di kala hati telah berhasil membangun kebersamaan dengan Tuhannya. Tak ada kata-kata yang memekakkan telinga, yang ada hanya nasihat yang menenangkan jiwa. Tak ada amarah yang menakutkan raga, yang ada hanya perbuatan yang mengindahkan mata. Seperti malaikat ya kelihatannya? Tidak, jika malaikat lebih sempurna dari itu semua. Itulah manusia jika hatinya sudah tertawan oleh kecintaan kepada Rabb-nya, maka dirinya selalu akan berusaha untuk bisa menyejukkan pandangan mata. Tidak asal bicara, tidak asal bertindak, apalagi mengacaukan suasana. Segala tindakan selalu dipikirkan olehnya, bermanfaat atau merugikan untuk lingkungan sekitarnya.

Semangat pagi dunia, pagi ini adalah saat yang tepat untuk kita bangun dengan cepat, sebelum semuanya terlambat. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita sendiri yang mengawali, ya siapa lagi? Mari kita reload kembali semua aktivitas jasadiyah dan ruhiyah kita. Adakah masih tersimpan kekurangan di dalamnya, atau bahkan masih tersimpan banyak kesalahan diantaranya, maka segeralah kita berangkat untuk meng-update sebagaimana mestinya. Bila perlu upgrade ke tahapan yang lebih baru. Kita jangan tertidur berlama-lama hari ini, bisa-bisa nanti tambah keseleo lagi hatinya.  Let’s go wake up...!! Panggilan Tuhan selalu menggema di pagi hari untuk selalu menyemangati. Jika kita masih ingin dicintai, jika kita masih ingin didekap oleh kasih sayang-Nya, jika kita masih meinginkan kehidupan yang lebih baik lagi setelah ini. Semakin rapatkanlah barisan kita di hadapan-Nya. Ingat, dengan langkah kecil saja kita mendekati-Nya, maka Tuhan akan mendekati kita dengan berlari begitu cepatnya. Begitu sangat pedulinya Tuhan kepada kita, sifat kasih dan penyayang-Nya tidak pernah terputus untuk semua manusia sang penghuni dunia. Lantas bagaimana perlakuan diri kita terhadap-Nya? Renungkanlah, intropeksi diri kita sendiri-sendiri ya. Dan jawablah sendiri di dalam masing-masing hati kecil yang kita miliki. Dan jangan lupa tersenyumlah menyambut kecerian pagi ini seraya bedoa dan ucapkan, “semangat pagi dunia, akulah salah satu manusia yang selalu ingin menebar manfaat di alam raya.” Semoga kita temui hati-hati indah di dalamnya, dan semangatlah untuk menggapai kebaikan dan keberkahan di setiap hari-hari seluruh kita.

Kamis, 01 Maret 2018

JILBAB

Dulu sebelum memakai jilbab, tahunya kalau sudah memakai pakaian serba panjang sudah baik dan tidak berdosa walaupun kepala tidak ditutupi. Dulu ketika belum berjilbab, sering juga ikut2an berkata buat apa berjilbab kalau kelakuan&akhlaknya masih bejat, hatinya gak dijilbabin, sama saja bohong. Dulu waktu masih jauh sama jilbab, ah banyak sekali dalih dalih yang terucap untuk mengalihkan alur cerita tentang kewajiban berjilbab. Bahkan dulu ketika hati sudah mulai terpikat dan mendekati jilbab, niatannya pun salah. Dulu ketika memulai berjilbab, lantaran ketika smp melihat guru agama islam dan matematika memakai jilbab terlihat anggun, dan enak dilihat. Dan karna itu jadi ingin berjilbab. Alhasil ketika masuk SMA pun berhasil untuk ikut2an berjilbab. Biar enak dilihat, itu saja yang menjadi niat.  Dulu saat mulai berkenalan dengan jilbab, pakaian ketat dan jeans dipadu padan dengan jilbab gaul selalu menjadi pakaian favorite yang amat sangat. Tetapi oh tetapi, seiring waktu yang berjalan,  aku baru tahu dan menyadari bahwa semua itu adalah salah besar. Sangat amat salah dan salah besar sekali. Dan itu adalah dosa besar. 

Satu teguran yang menampar, ku dapat dari seorang sahabat. Dia berkata, "kamu tahu gak bahwa dirimu itu memang berjilbab, tapi pakaian jilbabmu yang sekarang itu sesungguhnya kamu berjilbab tapi telanjang. Dan niatmu memakai jilbab itu salah, yang ada kamu tidak akan dapat apa2 dan tidak akan dilihat oleh Allah SWT. Kamu tahu gak berjilbab tapi telanjang itu yang seperti apa?". Dan saat ini aku hanya punya jawaban gelengan kepala. Tanpa banyak kata, kembali ku dapati tegurannya. Tapi kali ini teguran nasihat. Dimana aku diperintahkan harus mencari tahu tentang ilmu jilbab&memperbaiki niat. Agar ku dapat sebenar-benar hidayah tentang jilbab. Dan mengerti tentang bagaimana wajibnya jilbab, tidak hanya sekedar ikut2an merapat. Dari situ, dari semua nasihat yang pernah ku dapat, mulai terfikir dan penasaran tentang semua penampilan, apa iya aku ini seperti itu?

Dari situlah semuanya berawal, dari rasa penasaran keingintahuan yang kuat tentang penampilan jilbabku yang mengikat. Mulailah diri ini menggalinya, walau awalnya terasa berat. Tetapi demi ilmu akhirat dan Allah, sedikit demi sedikit mulai mencari tahu dan mendalami ilmunya, ilmu tentang jilbab tentunya. Pada akhirnya bertemulah diri ini dengan Q.S. Al Ahzab 59, buku saku panduan muslimah, serta 1001 alasan mengapa saya berjilbab.  Dan disitulah awal perjalanan ta'arufku dengab jilbab secara sebenar-benarnya jilbab. Sehingga akupun mulai mengenalnya secara akrab dan mendalam. Bahkan berani bilang cinta kepadanya. Dan mengakui bahwa penampilan serta pendapat2ku dulu begitu sangat jahiliya. Insyaallah sekarang sedikit demi sedikit belajar tobat mengenai hal jilbab, semoga kenal dan sangat cinta jilbab hingga akhir hayat. 

Alhamdulillah di pertengahan kelas 2 SMA mulai ku mengejar matahari, eh salah mengejar hidayah untuk berjilbab. Mencari hidayah untuk memperbaiki diri&niat berjibab yang syar'i. Dan alhamdulillah hidayah itu mendekat. Allah akhirnya pun melihat. Hingga saat ini masih bisa ku genggam ia dengan semangat, jilbabku yang melekat. Dan masih bisa berkumpul berholaqoh untuk terus menyelami lautan ilmu Allah bersama para sahabat sang jundi mewangi dunia. Semoga Allah terus menggenggam erat , untuk kita ke jalan selamat agar terus terikat oleh semangat bermakrifat. 

Itu cerita awalku berjibab, lantas bagaimana dengan kamu?? Ada yang mau share cerita, yuk kita berbagi kebaikan bersama.