Halaman

Kamis, 25 Mei 2017

SUBUH DI SUDUT IBUKOTA

Adzan subuh itupun menggema, berlomba saling bersahut-sahutan menunjukkan kegagahannya.  Masing-masing keindahan suaranya pun menyeruak seluruh alam raya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 waktu setempat. Tanda bahwa waktu sholat subuh akan segera tiba. Dengan lembutnya keharuman sang malampun perlahan mulai akan berganti dengan keharuman sang fajar. Ditandai dengan gema adzan yang begitu bergelora, memanggil-manggil seluruh umat manusia seantero jagad raya, untuk segera menunaikan kewajibannya. Sementara teman perjalanan yang duduk di sampingku, masih saja terlelap dalam buaian mimpi di kursi kemudinya. Malam ini hampir 10 jam ia mengemudikan mobilnya, sehingga membuat raut wajahnya terlihat tampak begitu lelahnya, sampai-sampai matanya pun tampak enggan terbuka untuk menatap kepergian sang malam.  
“Bangun mas, sudah dulu rehatnya. Kita cari masjid yuk karena bentar lagi sudah masuk waktu subuh nih” rajukku pada suami sambil mengguncang-guncangkan bahunya, berharap suamiku segera terjaga dari tidurnya.
"Memangnya sekarang jam berapa?" tanya suamiku.
"Jam 04.30 wib?" jawabku singkat
“Bentar lagi ya, matanya masih susah dibuka. Tunggu nyawa mas kumpul semua dulu” pinta suamiku dengan entengnya.
"Ya udah" jawabku sekenanya.

Aku pun terdiam dalam rasa kesel melihat reaksinya yang kembali merebahkan badan di singgasana kemudinya. Mungkin karena badannya yang terlalu lelah karena hampir semalaman mengemudi. Akan tetapi aku pun tak lantas pasrah, terus ku ingatkan suamiku yang masih terlena dalam lelapnya, sampai ia benar-benar terjaga dari tidurnya. Dan alhamdulillah tak butuh waktu lama, mungkin saja saat itu nyawanya sudah terkumpul semua.

"Kita cari masjid sekarang" timpal suamiku, yang kemudian dengan spontan bangkit dari tidurnya, menyadari bahwa adzan subuh telah memanggil-manggil raganya untuk segera menghadap Sang Pencipta dirinya. Langsung dibantingnya setir kemudi, meluncur untuk segera mencari rumah Sang Maha Pemilik jagad raya ini.

Masjid Al mukaromah (nama samaran), disinilah tempat pilihan kami untuk memanjatkan segala doa di kala panggilan-Nya menjelma. Setelah sebelumnya kami sempat menghentikan laju mobil ke salah satu masjid yang ada di pusat jantung kota, namun sayang gerbang masjid tersebut masih terkunci dengan  sangat rapatnya. Padahal waktu subuh telah berkelana, tetapi masjid tersebut masih tampak tak ada cahaya. Sehingga kamipun berlalu darinya. Tidak apa-apa, mungkin saja marbot di masjid itu masih terlelap dalam tidurnya, karena kelelahan sehingga lupa untuk membuka kunci pintu gerbang di kala waktu subuh tiba. Dan lupa mengumandangkan adzan disana. Sudahlah lupakan saja, masalah masjid yang masih terkunci rapat pintu gerbangnya. Yang terpenting kami sudah menemukan masjid yang lain untuk bisa segera menghadap kepada Allah swt. Namun lagi-lagi sayang seribu sayang, kami sedikit saja terlambat untuk bisa mengikuti sholat berjamaah di masjid ini. Setibanya kami di masjid tersebut, masjid sudah tampak sepi, tak ada satu orangpun terlihat di dalamnya, padahal waktu masih menunjukkan pukul 04.50 wib. Hanya 15 menit saja kami terlambat hadir dari panggilan adzan yang memanggema. Lagi-lagi suasana yang aneh menurut penglihatanku, satu jamaah pun sudah tak ada lagi di dalam masjid ini, entah mereka terpencar kemana perginya. Tanpa berpikir panjang kami pun segera turun dari mobil dan menuju tempat wudhu, membasuh wajah kami dengan kesejukan air yang ada, untuk segera melaksanakan panggilan-Nya. Kamipun pada akhirnya dengan penuh kekhusyu’an menyeru panggilan Sang Maha Rahiim, di sudut masjid ibukota dengan bertemankan sepi yang menyapa.

Alhamdulillah ya Robb, Engkau masih memberikan kami kesempatan untuk bisa sholat berjamaah, dan memberi kenikmatan khusyu’nya ibadah di tengah perjalanan kami. Inilah cinta yang Allah lukis dengan tangan lembutnya di atas cerita dunia yang fana. Indah dirasa, menenangkan jiwa. Itulah kesejukan yang menelusuri relung-relung hati kami. Di kala lantunan ayat-Nya menyeruak bumi, ketika jiwa seutuhnya berserah diri mengagungkan asma-asma Illahi. Sehingga sudah tak peduli lagi dimana posisi kami berdiri. Yang terpenting, diri ini bisa mendapatkan siraman yang menyejukkan jiwa dan raga dari Sang Maha Pencipta. Dan akupun hanyut pada pesona keindahan cinta-Nya, keelokan setiap bait-bait ayat suci-Nya. Rasanya tak ingin ku lepas dari-Nya. Hanya Dia Yang Maha Bijaksana, Maha Menenangkan Jiwa. Dan hanya kepada-Nya lah segalanya bermuara.

Inilah subuh di sudut ruang ibukota, bagiku sedikit miris melihat keberadaan sebagian masjid-masjidnya. Dimana pintu-pintu masjid itu masih terkunci dengan rapatnya. Begitupun dengan keadaan masjid yang kami singgahi saat ini,  tak jauh berbeda dari masjid sebelumnya. Hanya saja yang membedakan, kalau masjid sebelumnya pintu gerbang yang begitu gagahnya yang masih terkunci dengan rapatnya. Sementara disini hanya pintu-pintu masjidnya saja. Terpaksa kami pun saat itu memilih untuk sholat di beranda masjidnya saja, karena kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Ya, di beranda masjid yang menjadi lokasinya. Di situlah posisi kami berdiri untuk mengagungkan asma-Nya, menghadap Sang Maha Pencipta. Hmmm, jangan terheran-heran ya?  Mungkin ini sudah menjadi pemandangan biasa di jakarta. Dikunci semua pintu masjidnya. Padahal waktu subuh sudah memanggil segenap manusia untuk segera terjaga dari tidur lelapnya. Sedih rasanya, melihat masjid berdiri begitu megah dan kokohnya, namun keberadaannya sepi oleh manusia. Padahal adzan subuh baru saja bergema, lima belas menit yang lalu. Tapi masjid sudah menjadi tampak sunyi sepi begini tanpa ada penghuni di dalamnya. Keadaan ini terlihat aneh, tetapi nyata. Sholat di beranda masjid?? itu rasanya sangat luar biasa, pengalaman pertama yang amat berkesan di mata, karena baru kali inilah aku merasakannya. Bukan karena ruangan masjid yang sudah penuh sesak oleh jamaahnya, bukan pula karena banyaknya orang yang berdatangan mengunjunginya, tapi hanya karena semua pintu masjid ini sudah terkunci dengan rapatnya. Yah, itulah sekelumit cerita di atas dilematisnya raga di tengah perjalanan menuju ibukota, sampai-sampai masjid pun ikut terkunci oleh suasana.

Selesai kewajiban kami menghadap Sang Maha Pencipta, kami  pun merehatkan badan sejenak guna merefresh pikiran. Duduk berdua sambil meluruskan kaki, kami bersantai di beranda masjid nan megah ini.
“Mas kalau seperti ini kita seperti orang yang terlantar ya? Dengan suasana masih agak gelap, duduk diberanda masjid sambil selonjoran tanpa ada orang yang peduli sama kita” celetukku spontan dengan asalnya.
“Hush, apaan sih kamu ini ngomongnya, ya enggaklah. Enak aja” seru suamiku tak menerima.
“Oya, terus kenapa kok semua pintu masjid ini di kunci ya mas, padahalkan sudah subuh” sela ku penasaran.
“Mungkin disini banyak malingnya, makanya semua pintu masjidnya disini dikunci begitu selesai sholat” jawab suamiku menjelaskan.
“Maling?? Memangnya apa yang mau di maling di masjid, anehhh...” timpalku sekenanya.
“Ya ada aja, maling kotak amal, maling mic, maling sandal, dan mungkin juga maling karpet masjid” ujar suamiku sambil tertawa ringan.
“Oh...” timpalku singkat sambil tertawa.

Tak terasa hampir setengah jam sudah kami merehatkan badan di beranda masjid ini. Sang fajar pun mulai menampakkan kegagahannya kepada kami. Tanda bahwa cahaya pagi akan segera tiba menyapa alam dunia. Sedikit obrolan sederhana melengkapi perjalanan waktu subuh kami, dalam rehat seusai sholat subuh di beranda masjid yang megah di sudut ibukota. Cahaya pagi pun dengan malu-malu mulai menyapa wajah kami berdua, menyadarkan kami untuk segera beranjak dari kesejukan beranda masjid ini. Kaki pun bergegas pergi menuju mobil yang terparkir di halaman masjid sejak tadi. Dan kami siap melanjutkan perjalanan, perjalanan menuju istana kecil yang penuh dengan cinta-Nya.

Terima kasih ya Robbi, telah Kau buat sedikit tenang hati ini oleh kesejukan fajar dan cahaya pagi, walau sampai hari ini belum bisa kami mengerti, bagaimana kelanjutan skenario yang akan Kau buat hingga kehidupan esok hari. Sungguh rahmat-Mu ada di seluruh negeri, Cinta-Mu tak pernah putus hanya karena keangkuhan penduduk negeri, dan Engkau lah pemilik arrasyi. Begitu indah Kau buat pergantian siang dan malam, Engkau mengaturnya tanpa cela dan penuh kehati-hatian. Kesejukan anginnya membawa insan terbang kepada kesyukuran, seraya tunduk memohon ampunan. “Ya Allah kini pagi-Mu telah tiba, dan malam-Mu telah berlalu, maka berkahilah kami dan ampunilah segala dosa-dosa kami.”

On Memories, 25 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar