Halaman

Senin, 19 Maret 2018

PENGAMEN ITU GURU TERBAIKKU, part 1

Jakarta, Juni 2008; Ini adalah tepat untuk ketiga kalinya ku pijakkan kaki di ibukota negeriku tercinta. Bukan utk keperluan kuliah apalagi utk sebatas memnuhi wawancara kerja. Utk hari ini, itu sudah cukup dulu bagiku. Hello...! apakah kalian tahu, ada kabar gembira utkku hari ini. Pagi ini adalah awal aku masuk kerja. Luar biasa Allah Maha Indah, inilah mimpiku saat kuliah dulu. Masih teringat jelas, dulu pertama kali ku pijakkan kaki di gedung megah ini, di kawasan ini, pada saat field trip bersama teman-teman semasa kuliahku dulu. Saat itu pernah karna disebabkan oleh keisenganku...seorang dosen menegurku, "Kalian disini itu tidak ada apa2nya, ilmu kalian itu masih terlalu kecil, hanya orang2 terpilih yg bisa masuk kesini. Lihat, mereka semua itu adl para eksekutive muda yg berkelas dan berwawasan, serta memiliki inteligensi yg tinggi. Kalian tahu, kawasan ini adalah kawasan bonafite. Jadi jangan buat yg aneh-aneh disini, dengarkan, ikuti semua pengarahan dan pemaparan dg benar. Tanya saja apa yg seharusnya ditanyakan, jgn provokatori teman-temanmu dengan sifat ingin tahumu yg terlalu berlebihan." Hmmm, waktu itu cuma bisa manyun sebel dengar kata-kata bu dosen. Jika ingat itu...rasanya spt baru saja kemarin terjadi. Dan spt mimpi jika hari ini, kaki ini bisa berdiri dan duduk di sini. Hey girl...look, this is trading floor, this is real, this is not dream (batinku dlm hati). Aku bisa mengatakan..."hello...your account number, please your take action now" dg ditemani seperangkat headphone di telingaku&sepasang monitor utk menganalisis semua pekerjaanku. Inilah yg dulu hanya bisa ku lihat dari atas sana dan dibatasi oleh kaca saja, sambil di teriakin sama sang satpam, hey kamu!! jgn terlalu mendekat ke situ, dan di larang memfoto. Jika ingin melihat harap agak sedikit menjauh. Ngenes banget dah rasanya waktu itu heheee....
----------------------**

Siang ini kakiku terburu-buru. Langkah seribu ku ambil memaju sang waktu. Segala gundah dihatiku membuat barantakan semua agenda kerjaku. GM telah berkali-kali memanggil-manggil lewat ponselku, dan selalu menanyakan ada dimana diriku. Aku tahu, hari ini jadwalku persentasi utk salah satu calon klien perusahaanku. Huwaaaaa, persoalan itu telah merusak pikiranku dan sedikit membuat berantakan segala planing kerjaku. Macetttttt, kau membuatku bisu. Tapi tidak untuk ponselku. Ku lihat jam di tanganku sudah menunjukkan angka 10.30, padahal janji pada klien jam 10.00, krn jam 9.00 sdh open market.  Sementara di lain tempat, sang GM terus memanggil dan memantau perjalananku. Yang akhirnya tepat jam 11.00 baru bisa ku langkahkan kaki menaiki lift utk masuk ke ruang kerjaku. Dan disana sdh ada sang GM yang menyapaku, "Ini sdh jam berapa evi, sebentar lagi sdh close market dan jam segini kamu baru sampai kantor. Gagal sudah planing kita hari ini, calon klien kita sudah marah-marah". Begitu diriku kena omelannya. Huft! Ya sudahlah. Nikmati saja pikirku. Ah, macet macet terkadang kau selalu saja membuat masalah untuk diriku. Tapi apa mau dikata, inilah realita jakarta. Dimana semua ada, dari pesona indah sampai pesona resah. Dan itulah yang ada dalam kisah. Jiwaku yang sekarang bergelayut tak menentu. Tentang pekerjaanku, tentang hobi menulisku, tentang penampilanku, dan juga tentang kehebohan teman-teman holaqohku dulu. Ah, aku rindu! Terselubung dalam satu kelambu. Kini, otakku menjadi kacau tak menentu. Yang ku tahu hanyalah, aku rindu.
------*****------

Slipi, Maret 2009; Ini adalah tepat hari lahirku, tapi entah mengapa aku merasa tak ada satupun perubahan dalam diriku. Yang ada aku merasa semakin modis saja dg penampilan kerjaku. Tak ada lagi androk melilit pinggangku. Yang selalu ada hanya setelan blezer dengan celana panjangku. Walaupun jilbab masih menutup dadaku. Tetapi ada resah menggelayut di hatiku. Di sekitarku, tak nampak ku lihat bahkan tidak pernah ku temui pemandangan seorang wanita yg berbaju syar'i. Oh Tuhan, apa ini? Benarkah ini jalan yang Kau beri? Setiap hari bergelayut semua ini dalam hati. Tanda tanya, tanda keresahan diri yang terus saja menghantui. Rasanya ada sedikit rindu menggelayut dihatiku, ada sesuatu yang aneh pada diriku. Terlebih setelah peristiwa konflik kecil itu. Dimana jati diriku yg dulu? Karena peristiwa itu, tiba-tiba aku teringat kesalahan-kesalahanku kepada Sang Maha Pemilik Waktu. Tuhan, dia telah mengkhianatiku. Picik sekali ulahmu, batinku. Puas tertawa, kau telah berhasil menjatuhkan diriku. Ambillah semua yang menjadi hakku, berlarilah sesukamu. Berputar-putarlah di atas penderitaanku. Menarilah di atas dukaku. Tersenyumlah menyambut kekalahanku. Tiba-tiba saja badanku terasa layu, seperti tak berpijak menyusuri trotoar jalan ini. Menjerit rindu pada diriku yang dulu. Inilah kuasa-MU, yang telah KAU hempaskan aku ke dalam kesia-siaan yang terbungkus sembilu. Berkecamuk hatiku, mengenang semua memori masa laluku. Dan mulai membandingkan dengan diriku yang kini sedang layu karena ulah patner kerjaku. Kantorku kini rasanya bak penjara bagiku. Serasa seperti tirai besi yang membisu, yang memberikan kesengsaraan diri di perjalananku. Tiba-tiba terbayang mereka dalam pelupuk mataku. Para akhwat, dan para murobbiku, satu persatu wajah mereka mulai bergelayut di binar mataku. Tanpa menghiraukan tubuhku, kaki terus ku paksa berjalan menyusuri jalan yang tak ku paham. Ku ayunkan saja kaki, dan menaiki bus tanpa melihat kanan kiri. Dan kini, di dalam sebuah  bangku bus, seketika mataku tertuju pada seorang pengeman yg berdiri tepat di depanku. Seorang pengamen dengan pakaian hitam putih dan peci hitam di kepalanya, sangat rapi sekali. Dengan keterbatasan mentalnya, ia bersemangat sekali mengais rezeki di siang bolong ini. Pancaran wajahnya terlihat ada keteduhan dan ketenangan di sana. Kehadirannya membuatku terpana, apalagi setelah mendengar suara merdunya dan doa-doa baik yang terucap dari mulutnya. Subhanalllah, Allah telah menciptakan tiada kesia-siaan. Karena di balik kekurangannya tersebut, Allah memberikannya sebuah kelebihan yang tidak semua orang punya. Aku pun semakin terdiam, tak terasa hanyut antara kekaguman dan kesedihan.
..........................................................

Karena otakku yang sedang buntu dengan pikiran yang tak menentu, oleh sebuah masalah yang tak mampu melerai kemelut jiwaku, menjadikan diri lupa oleh jurusan kemana yang hendak ku tuju. Tak sadar, ternyata aku telah menaiki bus yang salah untuk menuju ke tempat tinggalku.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar