Halaman

Senin, 28 Mei 2018

MENJAGA HATI

“Jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini”. Begitulah sepenggal lantunan nasyid tentang hati yang mengingatkan kita agar selalu untuk bisa menjaga hati kita. Karena hati merupakan lentera bagi kehidupan kita. Jika hati kita baik, maka baiklah hidup kita. Sebaliknya jika hati kita jelek, maka jelek pula lah hidup kita. Hati sangat berpengaruh di dalam kehidupan kita. Maka sudah semetinya kita mampu menjaga hati kita, sebagaimana pesan yang disampaikan oleh lantunan syair jagalah hati tersebut. Karena jika hati kita sampai ternodai, maka bisa membuat diri kita menjadi hilang kendali. Hati  yang ternodai, akan sulit untuk bersikap arif. Semua tak bisa lagi tersusun rapi dengan keindahannya. Ketika hati hilang kendali karena sejenak diri kita lupa kepada-Nya, maka kelembutan hatipun dapat luntur seketika. Apalagi tatkala emosi yang bicara, maka ego mampu meluap dengan luasnya. Itulah sebabnya, mengapa ruhiyah wajib kita jaga kemurniaannya dengan sebaik-baiknya. Tanpa mengenal waktu, hari, bulan, bahkan tahun. Ruhiyah wajib selalu kita isi, bahkan kita update agar selalu terjaga dan tidak ada virusyang bisa mengotorinya. Karena hati sangat besar pengaruhnya, hatilah yang mampu menunjukkan  siapa dan bagaimana diri kita sebenarnya. Seorang yang lembah lembutkah kita, atau seorang yang arogankah kita. Hendaknya kita mampu jaga hati dari arogansi diri, agar ia tidak keraslalu mati. Menjaga hati dari segala kobaran emosi, agar ia mampu terkendali dan tidak menyakiti. Memang ada kalanya kita sebagai manusia melakukan khilaf karena segala ulah bumi, sehingga tak jarang membuat diri hilang kendali. Sehingga emosipun meluap kian menjadi-jadi. Akan tetapi, apakah lantas yang demikian itu mampu mengarahkan kita pada ketenangan hati? Tak sepatutnya jika kita langsung menghujani bumi dengan bara emosi, karena segala peristiwa bumi yang tidak mengenakkan hati. Sebab hal tersebut tidak akan membawa kita menepi, apalagi membawa pada ketenangan hati.

Kita memang bukan Rasulullah SAW yang mampu menjaga kelembutan hati dengan eloknya diri, yang mudah memaafkan segala kesalahan dengan segala ketulusan hati, yangmemiliki ruang keikhlasan sangat luas bagi penduduk bumi. Tapi, apa salahnya jika kita berusaha untuk belajar mengikuti, kita berusaha untuk bisa meneladani. Tidak harus dengan sifat yang sepenuhnya sama dengan Beliau, atau90% menyamai.  Tetapi setidaknya kita mampu mengambil sebagian dari apa yang Beliau contohkan, untuk kita pelajari. Yang kemudian kita implementasikan di kehidupan sehari-hari, walau tidak sepenuhnya menyerupai. Memang terasa sakitnya hati, ketika sebuah kepercayaan dikhianati. Ketika sebongkah kemarahan menghujami tanpa permisi, kesemuanya itu mampu membuat luka diri. Kita mungkin tidak akan bisa menerima keadaan ini, dan akan bilang “sakitnya tuh disini, di dalam hati”. Sehingga mengakibatkan banyak luapan emosi yang mungkin tidak mampu kita jaga lagi, bahkan tak sering membawa dendam dalam diri. Sungguh ironis melihat kenyataan yang seperti ini.

Sekarang, mari kita sama-sama coba pikirkan..., apakah iya kita tega membiarkan hatimenjadi mati? Atau membiarkan hati yang sedang sakit itu kian menjadi-jadi? Ingat, bahwa kita tidak akan menemukan kedamaian di dalam hidup, ketika kitatidak mampu mengendalikan segala luapan emosi, yang kerap membanjiri ruang lingkup diri. Karena kita hidup di persimpangan bumi, yang kapan saja luapan peistiwanya ada yang mampu membuat kita menjadi sakit hati. Itulah sebabnya kita harusmampu mengantipasi diri. Ibarat tubuh, jika kita sudah mulai merasakan tubuh ini kurang fit atau tidak sehat, pastinya yang kita lakukan adalah mencari dokteratau pengobatan untuk tubuh tersebut, agar tubuh tidak menjadi lunglai seketikadan sakitnya semakin menjadi. Begitupun dengan hati, jika kita merasa sudah mulai tak bersahabat lagi karena ulah bumi yang menghampiri, maka segeralah mencaricara untuk segera memperbaiki, agar sakitnya hati tak semakin menjadi. Segeralah ingat sang Illahi, beristighfar dan memintalah kelembutan tangan-Nya agar mengusap dada kita, sehingga diri terjaga dari luapan emosi. Karena jika emosi telah menguasai diri, maka logika tak mampu lagi berpikir dengan jernihnya. Hati tak mampu lagi memberi kelembutannya.

Hati-hatilah dengan hati, pandai-pandailah diri mengelolanya dengan pupuk made in Illahi. Jangan sampai arogansi diri membawa kita pada kerasnya hati. Jangan sampai sulutan emosi yang ada membawa kita kepada sakitnya hati. Jangan sampai kerasnya hati, sakitnya hati, kemudian membuat hati kita menjadi mati. Memang gampang-gampang sulit menata hati, memang tak seringan berkata-kata menjaga hati. Dan tidak juga semudah seperti membalikan kedua tangan menstabilkan hati. Apalagi jika yang punya hati telah tersulut oleh peristiwa arogansinya bumi. Tetapi, apakah lantas sikap kita harus tiba-tiba menjadi dingin oleh bumi? Sesungguhnya tidak harus demikan. Tidak pantas kita marah pada bumi, apalagi menyombongkan diri.Tidak pantas kita bangga diri, jika kita belum bisa mengelola hati, jika dirimasih dengan mudahnya tersulut oleh lautan emosi.

Ketahuilah bahwa kita adalah pengemudi sang hati, diri kita sendirilah yang mampu mengatur hati di atas lembar hitam putihnya kehidupan ini. Labuhkanlah diri pada istana Illahi, agar  kita mampu menjaga dan mengelola hati, sehingga terjauh dari segala ego diri yang bisa membakar emosi. Damaikanlah hati pada cahaya Illahi, agar menjadi tentram setiap langkah kaki. Ajaklah hati menuju muara cinta Illahi, agar tenang jiwa dan pikiran diri. Indahkanlah hati pada kerendahan diri, agar kita mampu melihat setiap sisi. Takakan merugi kita melunakkan hati, pada semua ulah bumi yang kerap menghampiri. Memaafkan segala yang menyakitkan hati, itu lebih arif diri, dan akan menghindarkan kita dari bengkaknya hati. Sebesar apapun itu, sesakit apapun itu, tempatkanlah hati pada kelembutan yang memperindah diri. Jangan sampai salah menempatkan hati, karena itu bisa membawa kita pada jurang yang menistakan diri. Apapun prilaku bumi, mencobalah berdamai dengan segala kelembutan hati yang kita miliki. Karena tidak akan mati harga diri, ketika kita memilih untuk lebih melembutkan hati di dalam menghadapi segala ulah bumi yang mungkin menyakitkan hati. Sebagai seorang muslim yang sejati, sudah sepatutnya kita pandai menjaga hati agar tak tergelincir kaki oleh arogansi bumi. Dan yang lebih penting adalah bersyukur selalu kepada Sang Illahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar